Mediakawasan.co.id, Jakarta – Batu ginjal kerap dianggap sebagai penyakit yang baru perlu ditangani ketika menimbulkan nyeri hebat. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat berdampak serius. Spesialis Urologi RS Premiere Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, mengingatkan sumbatan saluran kemih akibat batu ginjal yang berlangsung lebih dari enam minggu dapat mulai merusak fungsi ginjal, sedangkan jika mencapai 12 minggu kerusakan berpotensi menjadi permanen. Karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi.
Dalam Media Gathering RS Premiere Bintaro di Jakarta, Rabu (22/7/2026), dr. Teguh menjelaskan gejala batu ginjal tidak selalu muncul pada tahap awal. Sekitar 60 persen kasus baru menimbulkan keluhan setelah batu menyebabkan penyumbatan saluran kemih atau infeksi.
Keluhan yang paling sering dirasakan berupa nyeri hebat di pinggang yang menjalar ke perut bagian depan hingga selangkangan, disertai mual, muntah, demam, urine berdarah, maupun gangguan saat buang air kecil.
“Banyak pasien yang mengira hanya mengalami sakit lambung karena mual terus-menerus. Setelah diperiksa menggunakan USG, ternyata terdapat batu di ginjal,” ujarnya.
Menurut dr. Teguh, pemeriksaan ultrasonografi (USG) menjadi langkah awal untuk mendeteksi batu ginjal karena aman dan tidak menggunakan radiasi. Sementara pada kondisi tertentu, CT Scan tanpa kontras masih menjadi standar emas karena mampu mendeteksi batu dengan akurasi lebih tinggi.
Ia menegaskan penanganan batu ginjal saat ini tidak selalu memerlukan operasi. Batu berukuran kecil umumnya masih dapat ditangani dengan meningkatkan konsumsi cairan dan pemberian obat-obatan agar batu keluar secara alami.
Adapun batu berukuran lebih besar dapat diatasi melalui tindakan minimal invasif, seperti Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) menggunakan laser, maupun Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) yang menghancurkan batu tanpa sayatan. Perkembangan teknologi tersebut membuat pemulihan pasien menjadi lebih cepat dibandingkan operasi terbuka.
“Penanganan yang cepat dapat mencegah terjadinya kerusakan ginjal. Walaupun batu ginjal bukan penyebab utama gagal ginjal di Indonesia, deteksi dini tetap sangat penting agar fungsi ginjal tetap terjaga,” katanya.
Selain deteksi dini dan penanganan, dr. Teguh mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup merupakan langkah terbaik untuk mencegah terbentuknya batu ginjal maupun kekambuhannya.
Ia menyarankan masyarakat memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2,5 hingga 3 liter per hari hingga menghasilkan urine 2 sampai 2,5 liter per hari. Cara paling mudah mengetahui kecukupan cairan adalah memastikan urine berwarna jernih dan frekuensi buang air kecil sekitar enam hingga tujuh kali sehari.
“Jika frekuensi buang air kecil sudah enam kali tetapi warnanya masih pekat, itu menandakan tubuh masih kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal,” jelasnya.
Dr. Teguh juga menganjurkan penerapan timed drinking, yakni minum sekitar 300 mililiter air setiap dua hingga tiga jam agar tubuh tetap terhidrasi sepanjang hari. Selain itu, masyarakat diminta mengurangi konsumsi garam dan makanan tinggi purin, memperbanyak makanan berserat, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta mengendalikan diabetes dan hipertensi.
Untuk mencegah kekambuhan, ia juga merekomendasikan konsumsi buah atau minuman yang mengandung sitrat alami, seperti lemon, karena dapat membantu menghambat pembentukan kristal batu di saluran kemih.
“Jangan menunggu sampai batu menjadi besar atau menimbulkan komplikasi. Semakin cepat dideteksi dan ditangani, semakin besar peluang fungsi ginjal tetap terjaga,” pungkasnya. (Red/*)







































