Mediakawasan.co.id, Tangerang Selatan – Pengelolaan diabetes kini berkembang dari sekadar menjaga kadar gula darah. Ketika diabetes disertai kelebihan berat badan atau obesitas, penanganan perlu mencakup pengendalian berat badan dan berbagai faktor metabolik untuk membantu menekan risiko komplikasi dalam jangka panjang. Menjawab kebutuhan tersebut, Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital BSD menghadirkan layanan terpadu dengan dukungan dokter spesialis dan konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes.
Diabetes Connection Care merupakan layanan yang dirancang untuk membantu pasien mendapatkan penanganan diabetes dan penyakit metabolik secara lebih menyeluruh. Pendekatan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada angka gula darah, tetapi juga mempertimbangkan berat badan, kondisi metabolik, faktor risiko kardiovaskular, serta kebutuhan terapi masing-masing pasien.
Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes sekaligus Chairman Diabetes Connection Care (DCC), ditemui hari ini, Sabtu, (8/8), mengatakan, obesitas perlu dipahami sebagai kondisi medis yang dapat berkaitan erat dengan munculnya berbagai gangguan metabolik, termasuk diabetes melitus tipe 2.
Penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, dapat menyebabkan tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin tersebut membuat pankreas harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kadar gula darah tetap normal.
Jika berlangsung terus-menerus, kemampuan pankreas dalam memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Akibatnya, kadar glukosa semakin sulit dikendalikan dan risiko berkembangnya diabetes tipe 2 meningkat.
Terapi Diabetes Kini Berkembang
Menurut Prof. Sidartawan, perubahan pola makan dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama dalam pengelolaan obesitas. Namun, tidak semua pasien mendapatkan hasil yang optimal hanya melalui perubahan gaya hidup.
Pada kondisi tertentu, terapi obat dapat menjadi bagian dari strategi penanganan, terutama ketika obesitas disertai diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan kolesterol, atau ketika upaya perubahan gaya hidup yang telah dilakukan secara konsisten belum menghasilkan penurunan berat badan yang bermakna.
Perkembangan terapi diabetes juga menghadirkan pilihan pengobatan yang memiliki manfaat terhadap pengelolaan berat badan. Salah satunya berasal dari kelompok terapi berbasis hormon inkretin, seperti GLP-1 receptor agonist dan dual incretin.
Pilihan terapi tersebut bekerja melalui mekanisme yang membantu mengendalikan kadar gula darah sekaligus mendukung pengaturan nafsu makan dan berat badan. Pemilihannya tetap harus dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
DCC Hadirkan Terapi Tirzepatide
Salah satu pilihan terapi yang kini tersedia dalam layanan Diabetes Connection Care Eka Hospital Group adalah tirzepatide.
Dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIM, Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes DCC Eka Hospital BSD, menjelaskan bahwa tirzepatide merupakan terapi yang bekerja sebagai dual agonist terhadap dua hormon inkretin, yakni GLP-1 dan GIP.
“Obesitas merupakan kondisi kronis yang kompleks. Penanganannya tidak cukup hanya dengan menjalankan satu program diet, tetapi membutuhkan perubahan gaya hidup yang berkelanjutan dan, pada pasien tertentu, dapat dikombinasikan dengan terapi medis,” ujar dr. Dicky.
Tirzepatide memiliki mekanisme yang membantu meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi nafsu makan. Terapi ini juga dapat memperlambat pengosongan lambung serta membantu meningkatkan respons insulin ketika kadar gula darah meningkat.
Dengan mekanisme tersebut, tirzepatide dapat menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien diabetes tipe 2 yang membutuhkan pengendalian gula darah lebih baik dan pasien dengan diabetes yang mengalami overweight atau obesitas, sesuai indikasi medis.
Penggunaan Harus dalam Pengawasan Dokter
Meski menawarkan pilihan terapi yang lebih modern, penggunaan tirzepatide tidak dapat dilakukan secara bebas. Pasien perlu menjalani evaluasi terlebih dahulu untuk menentukan apakah terapi tersebut sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Seperti terapi medis lainnya, tirzepatide juga dapat menimbulkan efek samping, terutama yang berkaitan dengan saluran pencernaan. Beberapa di antaranya adalah mual, muntah, diare, sembelit, perut kembung, serta rasa tidak nyaman pada ulu hati.
Karena itu, pemilihan pasien dan penyesuaian dosis perlu dilakukan oleh dokter. Pemantauan secara berkala juga diperlukan untuk mengevaluasi respons tubuh terhadap terapi sekaligus mengantisipasi efek samping yang mungkin muncul.
Dr. Dicky menekankan bahwa pengelolaan obesitas dan diabetes sebaiknya tidak hanya mengejar angka ideal pada timbangan. Tujuan yang lebih luas adalah memperbaiki kesehatan metabolik secara keseluruhan dan membantu pasien mencapai kontrol penyakit yang lebih baik.
Melalui Diabetes Connection Care Eka Hospital BSD, pasien dapat memperoleh evaluasi dan perencanaan terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Layanan ini didukung oleh dokter berpengalaman di bidang endokrinologi, metabolik, dan diabetes, termasuk Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo dan dr. Dicky Levenus Tahapary.
Dengan semakin beragamnya pilihan terapi, pengelolaan diabetes yang disertai obesitas kini dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Perubahan gaya hidup tetap menjadi fondasi, sementara terapi medis dapat menjadi bagian dari strategi penanganan bagi pasien yang memenuhi indikasi.
Diabetes Connection Care Eka Hospital BSD hadir untuk membantu pasien mendapatkan pengelolaan diabetes, obesitas, dan penyakit metabolik secara terintegrasi, dengan terapi yang di sesuaikan berdasarkan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing pasien. (Red/*)






































