Mediakawasan.co.id, Tangerang Selatan — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menyelenggarakan Simposium Nuklir 2025 yang berlangsung selama dua hari di kawasan Puspiptek, Serpong. Kegiatan ini diikuti sekitar 380 peserta dari berbagai institusi, terdiri atas 50 persen internal BRIN dan 50 persen mitra eksternal, termasuk perguruan tinggi, kementerian, industri, hingga mahasiswa.
Rangkaian kegiatan dimulai sehari sebelumnya dengan kunjungan fasilitas nuklir. Sebanyak 29 peserta diundang meninjau langsung Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy serta Instalasi Pengelolaan Limbah Radioaktif di Serpong.
Hari kedua menjadi puncak kegiatan berupa simposium dan seminar, menghadirkan pembicara kunci dari Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), BRIN, Universitas Pertahanan RI, dan Direktorat Jenderal EBTKE. Selain sesi pleno, acara juga diramaikan dengan pameran poster, market teknologi, serta sesi paralel bersama para champion di bidangnya.
Menurut Anis Rohanda selaku perwakilan BRIN, tema simposium tahun ini menekankan pentingnya teknologi nuklir sebagai penopang menuju kedaulatan energi Indonesia. “Harapannya nuklir dapat mendukung berbagai bidang aplikasi, mulai dari energi untuk industri, kesehatan, pangan, hingga kontribusi pada target net zero emission 2035,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, BRIN juga memperkenalkan sejumlah market teknologi nuklir, di antaranya desain reaktor daya, dummy fuel untuk reaktor riset, produk radioisotop dan radiofarmaka, serta edukasi pengelolaan limbah radioaktif.
Selain aspek teknis, simposium ini juga menekankan aspek non-teknis berupa penguatan jejaring antara BRIN, HIMNI, akademisi, kementerian, industri, hingga mahasiswa. “Kegiatan ini memberikan wawasan baru sekaligus memperluas kolaborasi strategis untuk menyiapkan SDM ketenaganukliran di masa depan,” tambah Anis.
Sejalan dengan upaya global menekan emisi karbon, Kementerian ESDM telah menyusun skenario transisi energi menuju net zero emission 2035, di mana energi nuklir diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama. Dukungan juga datang dari dunia pendidikan, di antaranya UGM, ITB, dan Universitas Pertahanan RI yang mulai membuka program studi ketenaganukliran guna mempersiapkan tenaga ahli di bidang ini.
Dengan kolaborasi riset, pemanfaatan teknologi, dan penguatan SDM, Indonesia diharapkan dapat segera mewujudkan kedaulatan energi sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. (Red/*)











































