Mediakawasan.co.id, Tangerang Selatan – Pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia dinilai memiliki peluang yang jauh lebih luas dibandingkan persepsi masyarakat selama ini. Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) periode 2026-2031 pun menempatkan edukasi publik dan perluasan jejaring sebagai agenda penting untuk mendorong teknologi nuklir semakin hadir dalam berbagai sektor kehidupan.
Kepengurusan HIMNI periode 2026-2031 resmi dikukuhkan dengan Djarot Sulistio Wisnubroto sebagai Ketua Umum. Pengukuhan sekaligus penyampaian program kerja tersebut berlangsung di Aula PT Intergy, TBIC-BRIN, Sabtu (13/8/2026).
Djarot mengatakan, HIMNI ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap nuklir. Selama ini, istilah nuklir masih kerap identik dengan persenjataan atau pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), padahal penerapannya telah mencakup berbagai kebutuhan lain.
“Goal-nya tidak hanya PLTN. Bagaimana pemanfaatan teknologi nuklir itu bisa lebih luas,” ujar Djarot.
Menurutnya, teknologi nuklir dapat memberikan manfaat di bidang kesehatan, pertanian, pangan, lingkungan, industri hingga energi. Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat polusi maupun mendeteksi kerusakan pada suatu benda atau struktur melalui metode pengujian tak merusak.
Karena itu, HIMNI akan mengambil peran dalam meningkatkan literasi masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi berbagai pihak untuk mengenal dan terlibat dalam pengembangan pemanfaatan nuklir secara damai.
“Tujuan utama itu bagaimana pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir makin luas di Indonesia. Kedua, kita juga membantu banyak pihak mengenal apa itu nuklir,” katanya.
Perluas Jejaring hingga Daerah
Untuk memperkuat peran tersebut, HIMNI periode baru akan memperluas basis keanggotaan dan jaringan organisasi. Langkah ini dinilai penting karena pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya berlangsung di pusat-pusat riset, tetapi juga melibatkan berbagai sektor dan sumber daya manusia di daerah.
Saat ini HIMNI telah memiliki cabang di Banten, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan Barat dan Yogyakarta. Organisasi tersebut juga menyiapkan ekspansi ke sejumlah wilayah lain, termasuk Bangka.
“Kita ingin menambah jumlah anggota, menambah jumlah cabang di daerah, dan membuat cabang organisasi anak muda di daerah,” ujarnya.
Djarot menegaskan, HIMNI tidak membatasi keanggotaan hanya untuk ilmuwan atau mereka yang memiliki latar belakang pendidikan nuklir. Masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap teknologi nuklir juga terbuka untuk bergabung.
“Pokoknya suka dengan nuklir bisa jadi anggota. Tidak harus seorang profesor atau dokter nuklir,” katanya.
Selain memperluas anggota, HIMNI juga akan mendorong keterlibatan lebih banyak pemangku kepentingan dalam organisasi. Pemerintah, akademisi, industri, komunitas hingga generasi muda diharapkan dapat mengambil bagian dalam membangun ekosistem pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.
Djarot menilai, Indonesia sebenarnya telah memiliki banyak sumber daya manusia yang menggunakan teknologi nuklir dalam pekerjaannya. Namun, keberadaan mereka belum seluruhnya terhubung dalam satu komunitas yang kuat.
Melalui kepengurusan 2026-2031, HIMNI ingin memperkuat basis tersebut sekaligus memperluas komunikasi dengan masyarakat. Dengan demikian, pemanfaatan nuklir diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi juga semakin dikenal, dipahami dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan.
“Kita ingin menyusun keanggotaan yang kuat, termasuk mengajak banyak pemangku kepentingan yang berpengaruh untuk terlibat atau bisa jadi pengurus atau anggota HIMNI,” pungkasnya. (Red/*)













































