Mediakawasan.co.id, Tangerang – Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang selama ini dikenal sebagai salah satu gangguan hormon pada perempuan kini resmi berganti menjadi PMOS (Penyakit Metabolik Ovarium Sindrom). Perubahan istilah ini merupakan hasil kesepakatan para pakar kesehatan dunia untuk mencerminkan kondisi penyakit secara lebih akurat sekaligus meningkatkan ketepatan diagnosis dan penanganan pasien.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi di Eka Hospital BSD, dr. Agus Heriyanto, Sp.OG, Subsp. FER, MARS, MM, menjelaskan bahwa istilah PCOS dinilai kurang tepat karena terlalu menekankan keberadaan kista pada ovarium, padahal kondisi tersebut bukanlah inti dari penyakit.
“Selama ini banyak pasien maupun tenaga medis berfokus pada ditemukannya kista kecil melalui pemeriksaan USG. Padahal, banyak penderita mengalami gangguan hormon dan metabolik tanpa memiliki gambaran ovarium polikistik,” ujarnya.
Menurut dr. Agus, kondisi tersebut menyebabkan banyak kasus tidak terdiagnosis sejak dini. Diperkirakan sekitar 70 persen pasien mengalami keterlambatan diagnosis karena tidak ditemukan kista saat pemeriksaan USG.
Dengan perubahan istilah menjadi PMOS, pendekatan diagnosis kini lebih menitikberatkan pada gangguan metabolik dan hormonal dibandingkan tampilan ovarium. Dokter akan mengevaluasi kondisi seperti resistensi insulin, obesitas sentral, gangguan kadar kolesterol, serta gangguan ovulasi dan siklus menstruasi.
Sebelumnya, diagnosis PCOS mengacu pada Kriteria Rotterdam, yaitu pasien dinyatakan mengalami PCOS apabila memenuhi sedikitnya dua dari tiga kriteria, yakni gangguan menstruasi atau ovulasi, peningkatan hormon androgen yang ditandai gejala seperti jerawat berat atau pertumbuhan rambut berlebih, serta adanya gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan USG.
Dalam pendekatan PMOS, hasil USG yang normal tidak lagi menyingkirkan kemungkinan diagnosis. Seorang perempuan tetap dapat didiagnosis mengalami PMOS apabila memiliki gangguan menstruasi kronis disertai masalah metabolik dan hormonal.
Perubahan ini diharapkan memungkinkan pasien memperoleh penanganan lebih cepat sehingga dapat mencegah berbagai komplikasi jangka panjang, antara lain infertilitas, Diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Dr. Agus mengimbau perempuan yang mengalami siklus haid tidak teratur, kesulitan menurunkan berat badan, atau sedang menjalani program kehamilan agar tidak hanya mengandalkan hasil USG, tetapi juga menjalani pemeriksaan hormon dan metabolik secara menyeluruh.
“Perkembangan ilmu kedokteran terus mengarah pada diagnosis yang lebih tepat sehingga pasien dapat memperoleh terapi yang sesuai sejak dini. Pemeriksaan menyeluruh menjadi kunci untuk menentukan penanganan terbaik,” katanya.
Dengan perubahan istilah ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa PMOS bukan sekadar persoalan adanya kista pada ovarium, melainkan gangguan metabolik dan hormonal yang memerlukan deteksi dini serta penanganan komprehensif.







































