Mediakawasan.co.id, Surabaya – Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara terus mendorong transformasi ekonomi daerah dari penghasil bahan mentah menjadi pusat industri pengolahan berbasis komoditas unggulan. Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Kolaka Utara Industry, Trade and Investment Forum 2026 di Mercure Surabaya Grand Mirama, Senin (11/5/2026).
Forum investasi ini menjadi ruang strategis bagi Pemkab Kolaka Utara untuk mempertemukan investor nasional dan internasional dengan potensi unggulan daerah, khususnya sektor perkebunan seperti kakao, kelapa, kopi, dan cengkeh.
Bupati Kolaka Utara, Nurrahman Umar, menegaskan bahwa daerahnya tidak ingin terus bergantung pada penjualan komoditas mentah tanpa nilai tambah.
“Yang kami harapkan adalah hadirnya industri yang mengolah bahan baku dari Kolaka Utara menjadi produk yang bisa dipasarkan di dalam maupun luar negeri. Dari industrialisasi itu akan muncul nilai tambah, lapangan kerja, dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Nurrahman.
Ia menjelaskan, komoditas kakao dan kelapa menjadi fokus utama dalam forum tersebut karena memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri hilir. Selain itu, peluang investasi juga dibuka untuk pengembangan kopi dan cengkeh.
Menurut Nurrahman, kakao asal Kolaka Utara mulai menarik perhatian pasar global karena memiliki karakteristik aroma khas yang berbeda dari daerah lain.
“Ada rekomendasi dari Prancis yang menyebut kakao Kolaka Utara memiliki aroma khas rempah. Itu menjadi nilai jual tersendiri,” katanya.
Meski dikenal sebagai salah satu sentra kakao di Sulawesi Tenggara, Nurrahman mengakui industri pengolahan di Kolaka Utara masih terbatas pada skala rumahan. Akibatnya, hasil panen petani selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk biji mentah.
“Pernah ada industri kakao, tetapi masih home industry dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Karena itu kami membuka forum ini agar investor bisa masuk dan meningkatkan produksi dalam skala lebih besar,” jelasnya.
Selain menarik investasi, pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan terhadap peningkatan kualitas komoditas agar sesuai standar ekspor. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kebiasaan petani yang belum menerapkan proses fermentasi pada kakao.
Nurrahman menilai perubahan pola produksi di tingkat petani sangat bergantung pada insentif harga yang kompetitif.
“Kalau kualitas internasional sudah dipenuhi tetapi harga masih lokal, tentu petani sulit termotivasi. Namun kalau harga bagus, petani pasti akan mengikuti standar pasar,” ujarnya.
Dari sisi regulasi, Pemkab Kolaka Utara menjanjikan kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif bagi investor yang masuk. Pemerintah daerah juga siap berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pusat untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan investasi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Sukanto Toding, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan industri hilir di Kolaka Utara.
“Kami berharap terbentuk sentra IKM untuk kakao dan kelapa sehingga terjadi peningkatan nilai tambah sekaligus penyerapan tenaga kerja,” kata Sukanto.
Ia menambahkan, di tengah dominasi hilirisasi sektor pertambangan nikel sebagai agenda nasional, daerah seperti Kolaka Utara memiliki peluang besar memperkuat hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kolaka Utara, Agusdin, menilai forum investasi ini sebagai langkah penting dalam mengubah struktur ekonomi daerah agar tidak lagi bergantung pada penjualan komoditas primer.
“Kolaka Utara jangan lagi hanya memproduksi bahan baku. Harus ada produk turunan yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Forum investasi tersebut dihadiri investor, pelaku usaha, akademisi, lembaga keuangan, hingga perwakilan perdagangan luar negeri. Agenda yang digelar mencakup pemaparan peluang investasi, business matching, serta penjajakan kerja sama melalui Letter of Intent (LoI) dan Memorandum of Understanding (MoU).
Melalui forum ini, Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara menargetkan percepatan masuknya investasi industri hilir berbasis sumber daya lokal, sekaligus memperkuat posisi daerah dalam rantai perdagangan nasional maupun global. (Red/*)













































