Tangerang Selatan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan terus mendorong pembentukan perilaku peduli lingkungan sejak usia dini melalui kegiatan kolaboratif lintas sektor yang digelar di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Jagung 02, pada Kamis, (16/4).
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Tangerang Selatan, Donny Herawan, menegaskan bahwa kegiatan ini mengusung tema kolaborasi bersama berbagai pihak. Mulai dari sekolah, kecamatan, pemadam kebakaran, hingga unsur kewilayahan turut dilibatkan dalam upaya membangun kesadaran kolektif.
“Konsepnya kolaborasi bersama. Makanya kita adakan di lingkungan sekolah, karena di sini ada berbagai unsur yang bisa terlibat langsung,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah aktivitas edukatif digelar, di antaranya operasi semut atau aksi pungut sampah bersama, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh Dinas Kesehatan, serta simulasi pembuatan lubang biopori.
Melalui simulasi tersebut, para siswa diajak langsung mempraktikkan pembuatan biopori yang nantinya diisi dengan sampah organik. Sementara untuk sampah anorganik seperti plastik, telah disediakan drop box yang selanjutnya akan dikelola dan ditimbang oleh bank sampah.
“Anak-anak tidak hanya diberikan teori, tapi juga praktik langsung. Harapannya, ini bisa menjadi kebiasaan yang mereka bawa ke rumah,” jelas Donny.
Ia menambahkan, output utama dari kegiatan ini adalah menanamkan kesadaran dan pola hidup peduli lingkungan kepada anak-anak. Dengan demikian, mereka diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa edukasi tersebut ke lingkungan keluarga dan sekitarnya.
Sekolah yang menjadi lokasi kegiatan ini juga dipilih karena telah meraih predikat Adiwiyata Mandiri, sehingga dinilai dapat menjadi contoh dan motivasi bagi sekolah lain.
Sementara itu, Kepala UPTD SDN Pondok Jagung 02, Sawiah Susanti, menyampaikan bahwa pihak sekolah telah menerapkan berbagai kebiasaan positif untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan di kalangan siswa.
Salah satunya melalui sistem piket harian, di mana siswa bertugas menyisir lingkungan sekolah setelah kegiatan belajar untuk memastikan kebersihan tetap terjaga. Selain itu, sekolah juga membiasakan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.
“Kami biasakan anak-anak untuk memilah sampah, mana yang organik dan anorganik. Tempatnya juga sudah kami sediakan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, sekolah juga memiliki inovasi dalam mengelola sisa makanan. Sisa makanan dari program makan bergizi dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam yang dikembangkan di lingkungan sekolah.
“Dari sisa makanan itu, kami manfaatkan untuk pakan ayam. Saat ini jumlahnya sudah cukup banyak dan hasilnya juga bisa dimanfaatkan,” tambahnya.
Berbagai pembiasaan tersebut dilakukan secara rutin, baik harian maupun mingguan, sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis lingkungan. Kegiatan non-akademik seperti kerja bakti dan aksi bersih lingkungan juga dijadwalkan secara khusus untuk memperkuat kesadaran siswa.
Melalui kolaborasi ini, DLH berharap upaya edukasi lingkungan tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi juga berdampak luas hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. (Red/*)






































