Mediakawasan.co.id, Tangerang Selatan — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Pamulang (Unpam), khususnya Fakultas Teknik, dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi iradiasi untuk mendukung kedaulatan pangan nasional.
Penandatanganan nota kesepahaman ini dihadiri langsung oleh Dr. Syaiful Bakhri, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, dan Rektor Universitas Pamulang Dr. E. Nurzaman, AM., M.M., M.Si serta sejumlah dosen dan peneliti dari kedua lembaga.
“Siang ini kami datang ke Universitas Pamulang untuk menandatangani beberapa perjanjian kerja sama, terutama dalam pemanfaatan teknologi iradiasi untuk kedaulatan pangan. Kami berharap universitas dapat memahami teknologi yang telah dikembangkan BRIN dan bersama-sama mengembangkannya lebih lanjut,” ujar Dr. Syaiful Bakhri.
Menurutnya, teknologi iradiasi bukan hal baru dan telah terbukti bermanfaat dalam memperpanjang masa simpan produk pertanian, menghilangkan hama seperti kutu buah, serta mencegah pembusukan. Teknologi ini juga dinilai dapat membantu menjaga kualitas produk pangan dan meningkatkan nilai ekspor.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap bisa memanfaatkan potensi besar yang dimiliki Unpam. Universitas ini memiliki sumber daya manusia, lahan pertanian, hingga fasilitas peternakan yang luas. Produk-produk yang dihasilkan bisa menjadi bahan uji coba untuk penerapan teknologi iradiasi, misalnya pada beras agar tetap layak simpan tanpa muncul kutu,” jelasnya.
Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada riset, tetapi juga pada penerapan hasilnya melalui teaching industry yang ada di Universitas Pamulang. Dengan jumlah mahasiswa yang besar dan fasilitas pendukung yang memadai, kolaborasi ini diharapkan mempercepat proses hilirisasi dan inkubasi hasil riset BRIN di bidang ketahanan pangan.
“Universitas Pamulang menjadi perguruan tinggi swasta pertama yang menjalin kerja sama dengan kami dalam bidang iradiasi pangan. Sebelumnya, BRIN telah bekerja sama dengan sejumlah kampus besar seperti UGM, UI, ITB, dan IPB,” ungkap Syaiful.
Lebih lanjut, ia juga menegaskan pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa produk pangan hasil iradiasi berbeda dengan produk yang terkontaminasi.
“Produk iradiasi justru diolah secara ilmiah untuk memperpanjang masa simpan dan menjaga kualitasnya, bukan karena kontaminasi. Ini perlu diluruskan agar publik memahami manfaatnya,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Pamulang Dr. E. Nurzaman, AM., M.M., M.Si “menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BRIN. Ia menilai kerja sama ini menjadi langkah penting dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”.
“Kolaborasi dengan BRIN di bidang iradiasi akan memperkuat peran universitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan terapan yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujarnya.
Dengan sinergi antara lembaga riset nasional dan dunia akademik, diharapkan teknologi iradiasi dapat diterapkan secara luas untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia. (Red/*)














































