Mediakawasan.co.id, Tangerang Selatan – ICSEEA merupakan agenda konferensi tahunan Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN yang menjadi forum strategis untuk mempertemukan peneliti, akademisi, industri, pemangku kebijakan, serta pemangku kepentingan dalam membahas dan mempercepat pengembangan inovasi berkelanjutan.
Tahun ini, ICSEEA 2026 mengusung tema utama “Resilient Transportation and Clean Energy: Shaping the Future of Sustainable Systems”, dengan fokus pembahasan melalui tiga subtema, yakni: Resilient Transportation, Clean Energy, dan Green Manufacturing.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan forum ilmiah seperti ICSEEA 2026 berperan strategis memperkuat kolaborasi riset–industri-pemangku kebijakan dan mempercepat hilirisasi inovasi. Ia mendorong agar diskusi ilmiah yang berlangsung tidak berhenti pada publikasi, tetapi diarahkan pada pembentukan agenda riset bersama, pengembangan prototipe, uji coba, hingga implementasi di lapangan, agar dampaknya dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia.
“Sinergi lintas sektor menjadi kunci mewujudkan sistem transportasi, energi, dan manufaktur yang lebih tangguh, efisien, dan rendah emisi,” kata Arif.
Kepala OREM BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan ICSEEA 2026 tidak hanya menjadi ruang diseminasi ilmiah, tetapi juga sarana membangun kolaborasi lintas sektor agar riset semakin berdampak. “Sebagai konferensi tahunan OREM BRIN, ICSEEA 2026 kami posisikan untuk memperkuat sinergi riset–industri-pemangku kebijakan. Harapannya, gagasan dan temuan ilmiah yang dibahas dapat ditransformasikan menjadi solusi aplikatif yang mendukung ketahanan sistem dan transisi menuju energi bersih,” ujar Cuk Supriyadi.
Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam menjelaskan penguatan ketahanan transportasi memerlukan pendekatan lintas disiplin—mulai dari teknologi kendaraan dan sistem propulsi, efisiensi energi, elektrifikasi, keselamatan, serta keamanan hingga integrasi kebijakan dan infrastruktur pendukung. “Melalui subtema Resilient Transportation, ICSEEA 2026 mendorong pertukaran pengetahuan dan kolaborasi riset yang lebih terarah untuk menghasilkan solusi transportasi yang adaptif, aman, dan rendah emisi, sekaligus relevan dengan kebutuhan nasional maupun dinamika global,” kata Aam.
Ketua Panitia ICSEEA 2026, Ludfi Pratiwi Bowo menyampaikan konferensi ini dirancang dengan format yang komprehensif, mencakup sesi pleno, paralel dan booth sponsor, serta mendorong interaksi langsung antara peneliti, pelaku industri dan juga pemangku kebijakan. “ICSEEA 2026 akan menghadirkan sesi pembukaan resmi, rangkaian sesi keynote, paparan/diskusi industri, serta presentasi paralel luring dan daring. Kami juga menyediakan ruang jejaring melalui kegiatan pendukung seperti gala dinner dan kunjungan booth sponsor untuk memperkuat peluang kolaborasi,” kata Ludfi.
Melalui konferensi ini, BRIN menargetkan tercapainya sejumlah tujuan utama. Pertama, memperkuat jejaring kolaborasi riset–industri–akademisi. Kedua, mendorong pertukaran pengetahuan dan pembentukan agenda riset bersama pada isu transportasi tangguh, energi bersih, dan manufaktur hijau. Serta ketiga, membuka peluang kerja sama riset terapan dan hilirisasi inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat.
Sesi pembukaan dan pleno pada 3 Februari 2026 akan dibuka secara resmi oleh Kepala BRIN, Arif Satria. Dilanjutkan rangkaian sesi keynote, paparan dan diskusi industri, serta presentasi paralel. Serta sesi keynote lanjutan, presentasi paralel, dan penutupan pada 4 Februari 2026 yang akan ditutup oleh Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian. Pada sesi penutupan, panitia juga akan mengumumkan apresiasi untuk Best Paper dan Best Presenter.
ICSEEA 2026 direncanakan menghadirkan 4 sesi pidato kunci dengan lebih dari 10 pembicara. Selain dari dalam negeri, konferensi ini juga menghadirkan pembicara dari Belgia, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Taiwan yang memiliki keahlian pada sektor transportasi, energi, dan manufaktur yang berasal dari perguruan tinggi, dan lembaga riset.
Sejumlah narasumber dari institusi nasional dan internasional telah dijadwalkan untuk mengisi sesi-sesi tersebut, disertai sesi tanya jawab. Turut hadir pembicara dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Perhubungan sebagai pemangku kebijakan dan regulator.
Selain itu, konferensi juga menampilkan Industrial Talk sebagai ruang dialog strategis antara pelaku industri, regulator, dan peneliti. Industrial Talk dirancang untuk memetakan kebutuhan teknologi dan tantangan implementasi di lapangan, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset terapan, uji coba teknologi, dan hilirisasi inovasi. Melalui sesi ini, peserta dapat memperoleh gambaran langsung mengenai isu prioritas industri, perkembangan praktik terbaik (best practices), serta peluang adopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan capaian dekarbonisasi. (Red/rlls)











































