Mediakawasan.co.id, Kepri – Lagoi di Bintan selama ini dikenal sebagai “surga kecil” yang memikat wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura. Keindahan pantainya, resort mewah, serta ketenangan yang ditawarkan menjadikan kawasan ini sebagai destinasi favorit. Namun, di balik gemerlap pariwisata Lagoi, muncul persoalan serius yang kini mengusik denyut nadi ekonomi masyarakat lokal: kehadiran transportasi online seperti Grab.
Ekonomi Lokal yang Tergerus Digitalisasi
Selama bertahun-tahun, sistem transportasi wisata di Lagoi diatur oleh resort dan komunitas setempat. Taksi konvensional, shuttle resmi, hingga kendaraan sewaan berbasis komunitas menjadi tulang punggung mobilitas wisatawan. Tarif memang relatif lebih tinggi, tetapi dianggap wajar karena menjamin kenyamanan, keamanan, dan yang terpenting—keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal.
Kehadiran Grab mengubah semua itu. Dengan tarif yang lebih murah dan pemesanan semudah sentuhan jari, wisatawan segera beralih. Tidak butuh waktu lama, pendapatan sopir lokal anjlok hingga 50–70 persen. Contoh nyata: perjalanan dari The Anmon Resort Bintan ke Pujasera Lagoi sejauh 2,5 km hanya memakan waktu lima menit. Menggunakan Grab biayanya Rp70.000, sementara taksi resmi mematok Rp125.000. Wajar jika wisatawan lebih memilih opsi yang lebih murah.
Ironi Multiplier Effect yang Hilang
Masalah terbesar bukan hanya soal tarif, tetapi juga perputaran ekonomi. Uang yang dibayarkan wisatawan lewat Grab tidak sepenuhnya kembali ke Lagoi. Sebagian besar mengalir ke perusahaan dan mitra di luar daerah. Dampaknya, multiplier effect bagi masyarakat lokal semakin menyempit. Sopir lokal yang tadinya bisa menyekolahkan anak atau membayar cicilan kendaraan kini terhimpit, bahkan ada yang terpaksa beralih profesi.
Fenomena ini memperlihatkan dilema besar pariwisata modern. Wisatawan menuntut efisiensi, transparansi tarif, dan layanan berbasis digital. Tetapi masyarakat lokal sebagai “tuan rumah” justru kehilangan ruang untuk menikmati manfaat dari geliat pariwisata.
Menghindari Konflik Sosial-Ekonomi
Jika situasi ini dibiarkan, konflik kepentingan bisa muncul antara sopir Grab dan sopir lokal. Apalagi, hingga kini belum tersedia lokasi yang ideal bagi driver Grab untuk menunggu pesanan di kawasan resort. Potensi gesekan sosial tidak bisa diabaikan.
Solusi yang realistis adalah mencari titik temu. Misalnya, adanya kesepakatan tarif berbasis jarak atau kilometer yang disepakati bersama antara sopir lokal dan driver Grab. Dengan begitu, tidak terjadi “perang harga” yang berujung pada kesenjangan sosial dan ekonomi di kawasan wisata Lagoi.
Menata Ulang Ekosistem Pariwisata Digital
Kehadiran Grab di Lagoi menjadi contoh nyata bagaimana teknologi bisa membawa dua wajah: kemudahan sekaligus kegelisahan. Digitalisasi memang tak bisa ditolak, tetapi harus dikelola bijak agar tetap berpihak pada kesejahteraan masyarakat lokal.
Wisata sejatinya bukan hanya soal memuaskan wisatawan, tetapi juga memastikan masyarakat setempat merasakan manfaatnya. Tanpa itu, Lagoi bisa saja tetap indah dipandang, namun masyarakatnya justru terluka secara ekonomi.
Penulis : Manahan F. H Purba (Mahasiswa Prodi S2 Magister Terapan Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Politeknik Sahid), Suci Sandi Wachyuni, dan Kadek Wiweka













































