Mediakawasan.co.id, Lebak – Keberadaan relawan dalam lingkup penanggulangan bencana di masyarakat merupakan sebuah aspek yang sangat krusial. Sebagai salah satu komponen terdepan dalam proses evakuasi saat bencana terjadi, kompetensi relawan menjadi hal yang sangat penting untuk menunjang tugasnya saat terjadi bencana.
Menyadari hal tersebut, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) berkolaborasi dengan mahasiswa MBKM Humanity Project Batch III UMN dan Relawan Tanggap Bencana Desa (RTBD) melaksanakan kegiatan SAHABAT pada hari Sabtu (18/11). Kegiatan ini diselenggarakan di Villa Hejo Kiarapayung.
SAHABAT merupakan akronim dari jargon “Sadar, Hadapi, Tanggap Bencana”. Kegiatan ini merupakan sebuah lokakarya klaster kesehatan yang bertujuan untuk melatih para relawan tanggap bencana dalam memahami dan mengimplementasikan prosedur operasi standar (POS) pada skenario tanggap darurat.
Lokakarya yang terdiri dari sesi pemaparan ilmu dan praktik pertolongan pertama pada skenario kebencanaan ini dihadiri oleh dr. Rudiansyah dari Puskesmas Panggarangan sebagai narasumber, Ketua Gugus Mitigasi Lebak Selatan Anis Faisal Reza, beserta 11 orang relawan dari GMLS dan sebagai peserta lokakarya.
“Lokakarya ini merupakan kesempatan yang berharga bagi para relawan, baik dari GMLS dan RTBD, untuk memperluas khazanah ilmu pengetahuan mengenai prosedur tanggap bencana. Ilmu yang disampaikan dalam lokakarya ini merupakan hal yang baik, yang dapat menjadi bekal bagi para relawan dalam menghadapi kondisi bencana yang sebenarnya,” ujar Ketua GMLS Anis Faisal Reza saat membuka lokakarya ini.
Pada sesi pemaparan ilmu dalam lokakarya ini, para relawan menerima pembekalan mengenai prinsip pertolongan pertama pada korban bencana, cara menghitung denyut nadi, serta prosedur operasi standar yang harus dilakukan untuk menangani berbagai skenario kebencanaan, seperti patah tulang, luka terbuka, gigitan ular dan binatang berbisa, hingga sengatan dari hewan laut.
Sesudah mendapatkan pemaparan teoretis mengenai prosedur operasi standar tanggap darurat, para relawan juga mendapatkan kesempatan langsung untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka dapatkan melalui studi kasus yang dipandu langsung oleh dr. Rudiansyah. Dalam sesi ini, para relawan mempraktikkan upaya pertolongan pertama pada berbagai skenario, mulai dari patah tulang, luka terbuka, hingga gigitan ular dan hewan berbisa. Tak hanya itu, para relawan juga dibekali dengan pengetahuan mengenai prosedur bantuan hidup dasar (BHD) yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti resusitasi jantung paru-paru (RJP) untuk korban yang mengalami henti napas, dan Heimlich Maneuver untuk korban yang tersedak atau tenggelam.
Setelah sesi praktik tersebut selesai dilakukan, lokakarya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara relawan dan dr. Rudiansyah. Pada sesi tanya jawab tersebut, dr. Rudiansyah memberikan penekanan mengenai pentingnya buku saku pertolongan pertama sebagai acuan dasar bagi para relawan dalam memberikan pertolongan kepada para korban bencana.
Lokakarya diakhiri dengan makan siang dan ramah-tamah bersama dr. Rudiansyah, para relawan dari GMLS dan RTBD, serta mahasiswa MBKM Humanity Project Batch III UMN. (Red/rlls)











































