Mediakawasan.co.id, Depok- Seringkali dianggap remeh, mimisan dan mendengkur saat tidur bisa jadi adalah gejala Septum Deviasi atau kelainan pada tulang hidung (tulang hidung bengkok). Meski bukan penyakit dengan resiko kematian, namun Septum Deviasi bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman karena deviasi septum dapat memblokir satu sisi hidung dan mengurangi aliran udara, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas.
Lebih jauh dengan Septum Deviasi, Dokter Spesialis THT Brawijaya Hospital Depok, dr. Lidya Sabig, Sp.T.H.T.B.K.L., secara rinci menjelaskan sebagai berikut:
“Tulang hidung bengkok atau istilah medisnya yaitu septum deviasi adalah bentuk sekat hidung yang tidak lurus di tengah sehingga membentuk deviasi (pembengkokan) ke salah satu rongga hidung atau kedua rongga hidung sehingga mengakibatkan penyempitan pada rongga hidung. Gejala utama yg dirasakan adalah hidung tersumbat pada satu atau kedua sisi lubang hidung. Gejala tersebut juga bisa disertai gejala lainnya seperti nyeri hidung, mimisan, nyeri kepala dengan derajat yang bervariasi dan infeksi sinus,” papar dr. Lidya.
Lanjutnya dr. Lidya, “Penyebab Septum Deviasi yang paling sering adalah trauma wajah. Penyebab lainnya adalah adanya ketidakseimbangan pertumbuhan tulang rawan hidung. Perlu diketahui bahwa tulang rawan septum hidung terus mengalami pertumbuhan meskipun batas atas dan dasar hidung telah menetap, dengan demikian terjadilah deviasi pada septum hidung.”
Selain bawaan, Septum Deviasi juga bisa diakibatkan oleh beberapa aktivitas yang memiliki resiko besar terjadinya septum deviasi, “Antara lain kegiatan olahraga, misalnya olahraga kontak langsung seperti tinju, karate, judo dan sejenisnya, pada pengendara motor yang tidak menggunakan helm atau pengendara mobil yang tidak menggunakan sabuk pengaman ketika berkendara,” papar dr. Lidya.
Untuk kasus hidung bengkok ini, dr. Lidya menyarankan agar seseorang yang mengalami gangguan pernafasan atau gejala Septum Deviasi segera memeriksakan diri ke dokter THT.
“Jika kita mengalami beberapa gejala seperti yang dijelaskan sebelumnya dan dirasakan mengganggu, sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter THT untuk dilakukan pemeriksaan. Beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan yaitu: pengamatan langsung pada batang hidung, pemeriksaan rongga hidung, endoskopi hidung dan pemeriksaan radiologi berupa rontgen atau MSCT scan hidung,” jelas dr. Lidya.
Lalu bagaimana penanganannya? “Penanganannya dapat dilakukan dengan terapi obat-obatan untuk mengurangi keluhan. Namun untuk meluruskan septum deviasi hanya dapat dilakukan dengan tindakan operasi,” imbuhnya.
“Jenis tindakan operasi pada septum deviasi yaitu septoplasti dan reseksi submukosa. Tindakan operasi apa yg akan dilakukan disesuaikan dengan tipe septum deviasi, fasilitas RS dan kebijakan dokter operator yang menangani. Untuk kasus Septum Deviasi atau hidung bengkok, saat ini Brawijaya Hospital Depok telah dilengkapi dengan fasilitas medis modern seperti Endoscopy dan CT Scan 128 Slice, yang dapat secara detail melihat kelainan pada organ termasuk organ pada bagian wajah,” tutup dr. Lidya. (red/as)






































