Serpong, mediakawasan.co.id – Pada dialog terbuka dengan Plt DKP3 Tangsel Sabam Maringan HS dengan pembudidaya tanaman hias minggu lalu terlihat satu pembudidaya bonsai yaitu Mistari yang setia menekuni Budi daya Bonsai. Benyamin Davnie selaku walikota Tangsel sangat mendukung dan mempunyai kepedulian tinggi terhadap Budi daya tanaman Bonsai selain tanaman anggrek, anggur dan kelor. Bonsai adalah seni mengkerdilkan pohon tertentu di dalam pot dari jaman dinasti Qin, dinasti Tang Tiongkok maupun saat restorasi Meiji di Jepang.
Mistari lahir di Jatiroto Rojopolo, Sembon Lumajang Jawa Timur ayahnya adalah
buruh tani dan hanya dia sendiri yang sedari kecil tertarik menekuni seni bonsai. Saat ini memiliki 6 anak dan belum terlihat ada satupun yang mengikuti jejaknya, walaupun istri dan keluarga sangat mendukung kecintaannya akan dunia Bonsai itu.
Budi daya usaha Bonsai Kinanthi owner Petrus Sulis, dengan pembudi daya dan pengelola Mistari. Usaha itu di Taman Kota 2 BSD berdiri
sejak lama dan sempat berpindah tempat berapa kali sebelumnya. Bahan untuk membuat bonsai didatangkan dari Jawa Timur, Riau, Garut, Bogor, Cipanas. Mistari awalnya belajar bonsai secara otodidak, ujarnya.
Seni Bonsai tak lekang oleh waktu punya penggemar tersendiri. Saat awal pandemi awal merebak sekitar empat bulan omset penjualan bonsai sempat meningkat.
Mistari, Petrus Sulis anggota PPBI (Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia) Tangerang Raya sangat berharap Walikota Tangsel dan jajaran pemerintahannya untuk memfasilitasi pemasaran Bonsai dan melibatkan tanaman Bonsai pada acara pameran di Tangsel, usul Mistari yang pernah menjadi salah satu panitia Pameran internasional Bonsai tahun lalu di Tang City mall, pameran bonsai di Living World Alam Sutera, Pameran Bonsai bekerja sama dengan Udaya Halim Benteng Heritage saat pameran budaya Chinese Peranakan berapa tahun silam.
Bonsai koleksi Petrus Sulis dan Mistari, Kinanthi Bonsai pernah terjual termahal di harga 150 jt, yaitu bonsai podocarpus/lohansung dan ficus micro carpa/kimeng. Dia ungkapkan kebahagiaannya adalah apabila hasil karyanya banyak di sukai penghobi, hal itu tidak dapat di ukur dengan materi. Mistari menekuni usaha seni bonsai dari SD, dan menekuni secara profesional sejak tahun 2000.
Menurutnya setelah ikut pameran bonsai muncul penggemar baru, namun dia tetap berharap aturan untuk pembeli/export ke luar negeri lebih di sosialisasikan dan lebih disederhanakan jangan terlalu rumit. Akibatnya bonsai lokal akan kalah bersaing dengan bonsai import. Tak ubahnya tanaman hias dan ikan hias.
Sangat diperlukan peran serta pemerintah dalam bidang terkait untuk meningkatan Budi daya Bonsai khususnya dalam bidang pemasarannya agar sejajar dengan Tiongkok, Jepang, Taiwan, Vietnam ataupun negara lainnya.
Dengan kesuburan tanah air Indonesia para pembudidaya Bonsai tidaklah kesulitan memperoleh bahan baku bonsai. Antara lain : kimeng/ficus microcarpa, lohansung atau podocarpus, iprik atau retusa, cendrawasih, juniperus chinensis, asam jawa atau tamarindus indica, jaboticaba atau anggur Brazil, anting Putri, casuarina atau cemara udang, ficus benjamina dan lain-lain. Koleksi Kinanthi Bonsai
ada yang berusia 35 sampai 40 tahun.
Dari ukurannya bonsai terbagi menjadi :
- Mame (mini) bonsai dengan ukuran tinggi s/d 15cm
- Small (kecil) bonsai dengan ukuran tinggi 16cm s/d 30cm
- Medium (sedang) Bonsai dengan ukuran tinggi 31cms/d 60cm, bonsai ukuran ini banyak disukai orang.
- Large (besar) Bonsai dengan tinggi pohon 61cm s/d 90cm
- Extra Large (sangat besar) bonsai dengan ukuran tinggi mulai 91cm s/d 150cm.
Khusus di Jepang dikenal dengan ukuran yang berbeda, yaitu:
- Dai bonsai (bonsai besar) bonsai dengan ukuran tinggi diatas 76cm. Four handed.
- Chumono bonsai (bonsai sedang) bonsai dengan ukuran tinggi mulai 41cm s/d 75cm. Two handed
- Komono bonsai (bonsai kecil) bonsai dengan ukuran tinggi mulai 15cm s/d 42cm. One handed size.
- Shohin bonsai (bonsai mini) Di Indonesia lebih dikenal Mame bonsai atau biasa disebut mame saja dengan ukuran tingginya mulai 5cm s/d 15cm-20cm. Palm Size
Semoga bermanfaat
Pada saat lomba Bonsai di pameran nasional menurut PPBI terbagi menjadi empat kelas yang dipertandingkan diantaranya kelas regional, kelas madya, kelas utama, kelas bintang. Penilaian juri untuk Bonsai tidak dilihat dari usia bonsai ataupun sudah dipamerkan tapi menurut penampilan, gerak keserasian dan kematangan Bonsai. (Red)














































