Mediakawasan.co.id, Jakarta – Adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Indonesia tumbuh pesat dalam empat tahun terakhir. Hadir dalam 2nd Automotive Electrical Indonesia Summit (AEIS) 2025, Project Management Unit ENTREV, Eko Adji Buwono, menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi untuk memperkuat ekosistem KBLBB nasional.
Data Korlantas Polri per Agustus 2025 mencatat jumlah mobil listrik telah mencapai 107.226 unit dan sepeda motor listrik sebanyak 201.795 unit. Eko melihat pertumbuhan jumlah pengguna KBLBB tersebut perlu dibarengi dengan penguatan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari industri baterai di hulu hingga layanan charging station di hilir.
“Kita telah melihat bagaimana ekosistem ini (KBLBB) tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kita juga diberkahi dengan komitmen kuat dari pemerintah untuk menjalankan transisi energi. PR-nya sekarang adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan peluang-peluang yang ada dalam rantai pasok panjang KBLBB ini,” ungkap Eko dalam Sesi Panelist AEIS 2025, Jakarta (4/9).
Eko kemudian menyinggung penyediaan charging station/Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang telah mencapai 4.134 unit, namun masih didominasi oleh inisiatif pemerintah. Sehingga, ia mengajak pihak swasta untuk lebih terlibat agar persebaran SPKLU lebih masif dan luas jangkauannya.
Selain itu, Eko juga membahas perihal industri hulu baterai KBLBB untuk mendorong ketahanan energi nasional. Terutama untuk sumber daya mineral seperti nikel yang melimpah di Indonesia dan menjadi salah satu bahan utama baterai KBLBB.
“Mindset transisi energi kita adalah memutus ketergantungan akan energi impor dan memaksimalkan sumber energi domestik. Kami mendukung upaya pemerintah yang terus menggenjot berbagai proyek hilirisasi mineral, khususnya terkait industri baterai,” jelasnya.
General Secretary Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin menanggapi, produksi mineral terkait KBLBB mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia, Indonesia adalah salah satu pemeran penting dalam rantai pasok industri baterai global.
Katrin mencatat, dari tahun 2020 hingga triwulan 3 tahun 2024, total telah ada Rp514,80 triliun investasi dan 194 perusahaan yang beroperasi. Hal ini membuat nikel menjadi komoditas ekspor utama Indonesia, mengalahkan batubara, dengan mendominasi 64% komoditas nikel global.
“Permintaan global untuk baterai kendaraan listrik terus meningkat. Sehingga, perlu hilirisasi lebih lanjut ke produk katoda dan baterai domestik. Langkah ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain nikel global utama,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Indonesian Society for Quality (ISQ) Moch Malik menambahkan, penguatan ekosistem KBLBB di Indonesia searah dengan gerak komunitas global untuk beralih ke penggunaan energi bersih. Ia melihat, Indonesia termasuk yang terdepan dengan pertumbuhan adopsi mobil listrik (BEV) lebih besar dibandingkan mobil hybrid.
“Seiring dengan peralihan dunia yang cepat menuju energi yang lebih bersih dan transportasi yang berkelanjutan, Indonesia harus mempersiapkan diri tidak hanya untuk beradaptasi, tetapi juga untuk memimpin,” imbuh Malik. (Red/rlls)













































