Mediakawasan.co.id, Serpong – Suasana riang anak-anak taman kanak-kanak berubah menjadi arena belajar yang penuh makna saat mereka diajak memahami cara menghadapi bencana. Melalui pendekatan interaktif dan menyenangkan, Dharma Wanita Persatuan (DWP) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan mengemas edukasi kebencanaan layaknya petualangan kecil yang seru sekaligus edukatif.
Alih-alih metode ceramah, anak-anak dari tujuh TK diajak terlibat langsung dalam simulasi, mulai dari bagaimana berlindung saat gempa, mengenali bahaya banjir, hingga memahami jenis-jenis bencana lain seperti tsunami dan gunung api. Tawa dan antusiasme mereka menjadi tanda bahwa materi yang kerap dianggap berat justru bisa diterima dengan cara yang ringan.
Ketua DWP Kota Tangsel, Monalisa Indrawati Bambang, menilai pendekatan ini efektif dalam menanamkan kesadaran sejak usia dini. Menurutnya, anak-anak memiliki kemampuan menyerap informasi dengan cepat, terutama jika disampaikan melalui aktivitas yang menyenangkan.
“Anak-anak ini seperti spons. Kalau sejak kecil sudah dikenalkan cara menyelamatkan diri, itu akan melekat sampai mereka dewasa,” ujarnya, Kamis (16/4).
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antarinstansi untuk memperluas jangkauan edukasi, terutama bagi lembaga PAUD yang belum memiliki akses terhadap fasilitas pembelajaran kebencanaan.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Tangsel, Essa Nugraha, menjelaskan bahwa pengenalan mitigasi bencana tidak hanya sebatas teori, tetapi juga praktik langsung yang disesuaikan dengan usia anak. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya tahu, tetapi juga mampu merespons saat kondisi darurat terjadi.
“Yang kita bangun bukan sekadar pengetahuan, tapi juga refleks dan keberanian. Jadi saat terjadi sesuatu, mereka tidak panik,” jelasnya.
BPBD Tangsel sendiri telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, termasuk command center yang dapat memberikan peringatan dini. Ke depan, edukasi ini akan dikembangkan lebih luas dengan melibatkan instansi lain seperti pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, hingga relawan kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, pembelajaran tentang bencana tak lagi terasa menakutkan. Sebaliknya, ia hadir sebagai bekal penting yang ditanamkan sejak dini—seperti kompas kecil dalam diri anak-anak, yang kelak membantu mereka menemukan arah saat situasi tak terduga datang. (Red/*)








































