Mediakawasan.co.id, Kalimantan Barat – Berangkat dari potensi tenun Dayak Iban sebagai komoditas unggulan lokal di Kapuas Hulu, Aram Bekelala Tenun Iban, program dari Yayasan Kawan Lama, hadir sebagai upaya pemberdayaan perempuan yang menghubungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi lokal.
Program ini dijalankan di empat dusun dengan fokus pada peningkatan kapasitas perempuan penenun melalui pelatihan terstruktur, pengembangan produk tenun berbasis nilai budaya, serta pembukaan akses pasar yang berkelanjutan guna memperkuat kemandirian ekonomi komunitas.
Dalam satu tahun pelaksanaan, program Aram Bekelala Tenun Iban mencatat peningkatan kesejahteraan penenun Dayak Iban dengan rata-rata pendapatan meningkat hingga 360 persen. Capaian ini didorong oleh pelatihan terstruktur dan pendampingan berkelanjutan yang mencakup penguatan teknik tenun dan pewarnaan alami, literasi keuangan, serta strategi pemasaran.
Program ini juga mendorong penenun menjadi fasilitator lokal melalui skema Training of Trainers (ToT), sekaligus melibatkan generasi muda dalam edukasi budaya dan lingkungan berbasis lokal guna menjaga keberlanjutan tradisi tenun Dayak Iban.
Ketua Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, menyampaikan bahwa program Aram Bekelala Tenun Iban dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian komunitas penenun.
“Melalui peningkatan kapasitas, pendampingan berkelanjutan, serta pembukaan akses pasar, kami ingin memastikan pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Wakil Bupati Kapuas Hulu, Sukardi, turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, Aram Bekelala Tenun Iban membuka ruang bagi perempuan penenun untuk meningkatkan kapasitas sekaligus kemandirian ekonomi.
“Program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Tenun Dayak Iban tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sumber penghidupan yang perlu terus dikembangkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.
Salah satu penenun binaan, Kristina Anyun, mengungkapkan bahwa program ini membawa perubahan nyata bagi dirinya dan komunitas.
“Melalui pelatihan dan pendampingan yang kami terima, kami tidak hanya belajar meningkatkan kualitas tenun, tetapi juga lebih percaya diri dalam mengelola dan memasarkan hasil karya kami. Sekarang, kami merasa memiliki bekal untuk terus mengembangkan usaha tenun secara mandiri,” ungkapnya.
Dari sisi pengembangan produk, program Aram Bekelala Tenun Iban mendorong inovasi desain dan pewarnaan alami berbasis nilai budaya Dayak Iban. Inovasi tersebut mencakup pengembangan lima motif baru serta pendokumentasian 58 motif tenun sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya.
Selain itu, teknik pewarnaan alami berkembang dari enam menjadi 69 variasi warna berbahan tanaman lokal seperti ketapang, daun kratom, kayu tebelian, serta lebih dari 20 jenis tanaman lainnya. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas dan daya saing produk, tetapi juga membuka potensi penciptaan lapangan kerja baru serta pengembangan industri pewarna alam berbasis komunitas.
Sejalan dengan capaian tersebut, karya tenun binaan program ini memperoleh pengakuan di tingkat nasional dan internasional melalui partisipasi dalam berbagai ajang, antara lain Fashion Nation XIX, Jakarta Fashion Week 2026, dan World Expo Osaka 2025. Program ini juga menjalin kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia serta desainer Wilsen Willim.
Untuk memperluas jangkauan pasar, program ini mendorong penenun melalui proses kurasi dan penjajakan ke kanal distribusi Pendopo sebagai bagian dari penguatan rantai nilai produk berbasis budaya.
Ke depan, program Aram Bekelala Tenun Iban akan terus dilanjutkan sebagai inisiatif jangka panjang Yayasan Kawan Lama. Pada tahun 2026, program ini akan berfokus pada penguatan kualitas tenun melalui pengembangan desain dan teknik, eksplorasi pewarna alam baru, serta peningkatan kapasitas pemasaran dan perencanaan bisnis penenun.
“Pemberdayaan perempuan penenun berbasis budaya kami yakini sebagai fondasi penting dalam menciptakan peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Tasya. (Red/*)












































