Mediakawasan.co.id, Jakarta – Indonesia kembali memasuki periode paling rawan dalam siklus bencana tahunannya. Setiap awal dan akhir tahun, kurva banjir nasional melonjak tajam dan membentuk pola yang semakin jelas: negeri ini sedang berada di ambang krisis ekologis yang semakin berat. Pola ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sedang menghadapi bencana musiman, melainkan kegagalan struktural dalam tata kelola lingkungan. Pada 2024, Januari mencatat 200 kejadian banjir—tertinggi sepanjang tahun—diikuti Desember dengan 191 kejadian. Bahkan pada April dan Mei, ketika intensitas hujan tidak berada pada puncaknya, banjir tetap signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa banjir di Indonesia tidak lagi sepenuhnya tentang cuaca, tetapi hasil dari menurunnya daya dukung lingkungan dan rapuhnya infrastruktur air.
Dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan 11 juta hektare hutan primer basah. Hilangnya penyangga ekologis di kawasan hulu menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menahan dan menyerap air. Ketika hutan dibuka untuk perkebunan, tambang, atau pembangunan, aliran air hujan tidak lagi tertahan oleh akar pohon, melainkan langsung meluncur deras ke dataran rendah. Sumatera adalah contoh paling telanjang dari krisis tersebut: Sumatera Utara kehilangan 84% tutupan pohon akibat deforestasi jangka panjang, dan Aceh mencatat 87% kehilangan yang didominasi alih fungsi lahan.
Kerusakan ini terlihat jelas dari banjir besar di Sumatra yang menyeret kayu-kayu gelondongan dalam jumlah besar hingga ke muara dan laut. Video dan laporan lapangan memperlihatkan aliran sungai yang berubah menjadi jalur hantaran kayu, mulai dari batang berdiameter besar hingga potongan log yang masih segar. Tidak mungkin kayu-kayu sebesar itu berasal dari pohon tumbang alami dalam jumlah masif dan serempak. Ini adalah bukti nyata pembalakan liar (illegal logging) yang berlangsung di kawasan hulu dan lereng-lereng kritis. Ketika banjir membawa kayu gelondongan dalam volume besar, itu berarti ada kegiatan penebangan yang tidak terkontrol — dan selama ini pemerintah gagal menindak pelakunya secara tegas. Reaksi pemerintah yang cenderung normatif dan minim investigasi memperkuat persepsi bahwa penegakan hukum di sektor kehutanan masih sangat lemah, sehingga kerusakan hutan terus terjadi tanpa pencegahan yang berarti.
Dalam konteks ekologis, penting untuk memahami peran DAS (Daerah Aliran Sungai). DAS adalah wilayah daratan tempat air hujan mengumpul dan mengalir menuju satu titik, seperti sungai atau danau. DAS bekerja sebagai sistem penyangga air: menahan, meresapkan, mengalirkan, dan menstabilkan debit air di seluruh wilayah hulu–tengah–hilir. Jika hulu DAS rusak akibat pembalakan atau alih fungsi lahan, seluruh mekanisme ini runtuh. Itulah sebabnya banjir dan longsor yang terjadi belakangan ini lebih destruktif dan membawa material yang menandakan kerusakan yang jauh lebih dalam.
Fenomena ini juga menjelaskan berbagai kejadian banjir ekstrem di kota-kota lain, termasuk kasus yang menarik perhatian publik: banjir di Kota Malang, yang ironisnya berada di dataran tinggi. Berdasarkan laporan resmi media dan pemerintah daerah, penyebab utama banjir Malang yang sudah terverifikasi adalah meluapnya sungai dan saluran air setelah hujan deras, terutama di kawasan jalur utama Malang–Surabaya. Debit air yang meningkat drastis membuat sungai seperti Kali Bendo tidak mampu menahan volume air, sehingga air meluap ke permukiman dan jalan raya, menyebabkan rumah-rumah terendam dan arus kendaraan lumpuh berjam-jam. Drainase yang tersumbat sedimen dan sampah memperparah situasi, sehingga air yang meluap tidak dapat surut dengan cepat. Dengan kata lain, banjir Malang bukan disebabkan topografi, tetapi karena sungai dan drainase kota yang tidak mampu mengelola debit air saat hujan ekstrem.
Di tingkat nasional sendiri, total 1.510 kejadian banjir pada 2024 menegaskan tekanan berat pada wilayah urban. Sepuluh provinsi dengan banjir terbanyak—Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan lainnya—konsisten menghadapi kombinasi curah hujan ekstrem, sedimentasi sungai, urbanisasi cepat, serta sistem drainase yang tidak memadai. Situasi ini diperburuk oleh peningkatan volume sampah rumah tangga menjelang akhir tahun yang menyumbat saluran air dan mempercepat genangan.
Beragam upaya mitigasi telah dijalankan pemerintah, termasuk normalisasi sungai, pembangunan kolam retensi, tanggul pesisir, polder, sistem peringatan dini, serta rehabilitasi kawasan hulu DAS. Namun, di lapangan, upaya ini kerap kalah oleh laju kerusakan alam. Penegakan hukum lingkungan yang lemah, pembiaran aktivitas tambang ilegal, perizinan lahan yang longgar, dan kurangnya pengawasan lapangan membuat mitigasi struktural berjalan secara tidak seimbang. Air yang datang dari hulu tidak dapat dikendalikan hanya dengan memperdalam sungai—jika hulu terus ditebang, krisis akan terus berulang.
Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, perhatian kita harus tertuju pada satu titik yang sangat krusial bagi masa depan bangsa. Ketika hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa telah terkoyak dan kehilangan fungsinya secara masif, kita harus menyadari bahwa Papua adalah benteng hutan terakhir yang dimiliki Indonesia. Papua bukan sekadar wilayah administratif, melainkan paru-paru dan pengatur siklus air terakhir yang masih berdiri tegak sebagai pertahanan ekosistem nasional.
Ancaman deforestasi di Papua yang terus meningkat akibat perluasan industri ekstraktif dan pembukaan lahan skala besar adalah alarm bagi keselamatan seluruh negeri. Kita tidak boleh membiarkan Papua jatuh ke dalam lubang kehancuran yang sama seperti pulau-pulau lainnya. Menjaga Papua bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Jika kita gagal melindungi Papua dan membiarkan benteng terakhir ini roboh akibat deforestasi, maka krisis ekologis di Indonesia akan menjadi permanen dan tak terpulihkan. Menghancurkan hutan Papua sama saja dengan mengundang bencana abadi yang akan menenggelamkan harapan kita di masa depan. Lindungi Papua sekarang, sebelum tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan. (Red/Rlls)












































