Mediakawasan.co.id, Jakarta – Komunitas Ayo Less Waste (ALW) mengadakan kegiatan Upgrading Enviromentalist di Perpustakaan Nasional RI, yang merupakan agenda rutin untuk umum, terutama bagi para pemuda penggiat lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk membahas isu-isu lingkungan terkini yang relevan dan menarik.
Kali ini, acara dibagi menjadi dua sesi yang mengangkat tema yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Pada sesi pertama, Sekar Banjaran Aji, seorang Forest Campaigner dari Greenpeace Indonesia, membahas topik “Potret Luka Nusantara di Raja Ampat dan Wilayah-Wilayah yang Terancam Ekspansi Industri. Indonesia 2045: Apakah Alam Masih Tersisa?”.
Sekar mengajak peserta untuk lebih memahami kondisi pulau-pulau kecil di sekitar Raja Ampat yang terancam akibat aktivitas penambangan nikel. Dalam paparannya, ia mencatat bahwa banyak pulau kecil di wilayah tersebut yang justru menjadi lokasi perizinan untuk penambangan. Harmoni antara eksploitasi industri dan lingkungan hidup di wilayah ini sangat dipertanyakan, terutama saat mengingat Undang-Undang yang melarang penambangan di pulau kecil dan wilayah pesisir.
“Kenapa pemerintah membuat peraturan yang justru dilanggar oleh mereka sendiri?” tanya Sekar, membangkitkan keingintahuan dan refleksi dari peserta. Ia juga menyoroti pentingnya melindungi wilayah Geopark yang kaya akan keanekaragaman hayati dan keindahan alam.
Dengan suasana diskusi yang santai namun serius, Sekar menekankan bahwa mencegah kerusakan jauh lebih baik daripada mengobati. Pesannya ini menyentuh hati peserta, mendorong mereka untuk bersama-sama mengawasi dan memperjuangkan keadilan lingkungan.
Sesi kedua diisi oleh Cynthia S. Lestari, founder akun @lyfewithless dan komunitas @bersalingsilang, yang berbagi tentang “Sustainability Starts with You: Membangun Budaya Berkelanjutan dalam Kehidupan Sehari-hari”. Cynthia menjelaskan pentingnya kesadaran akan dampak setiap tindakan dan keputusan yang diambil terhadap lingkungan.
Ia berbagi pengalaman pribadi dalam menjalani gaya hidup berkelanjutan, berfokus pada konsumerisme bijak dan upaya meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan. “Sustainability life itu, tidak hanya tentang keberlanjutan alam, tapi juga tentang mengenali apa yang benar-benar kita butuhkan,” ujarnya, mengajak peserta untuk mempertimbangkan gaya hidup mereka.
Dengan semangat positif, kedua pemateri menjawab berbagai pertanyaan peserta, yang antusias terhadap konsep dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Acara diakhiri dengan penyerahan bunga anggrek Cannary Gold sebagai simbol keceriaan dan kesuksesan, serta sesi foto bersama seluruh peserta dan panitia.
Kegiatan Upgrading Enviromentalist ini diharapkan dapat terus mendorong kesadaran dan tindakan nyata bagi generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di Indonesia. (Red/*)











































