Mediakawasan.co.id, Jakarta, 07 Juli 2023 – Penyakit Parkinson adalah gangguan neurologis yang umum terjadi pada populasi usia lanjut, dengan keluhan utama seperti gerakan melambat, gemetar (tremor), dan kekakuan pada sendi (rigiditas). Gejala-gejala inl dapat makin memberat seiring dengan pertambahan usia. Operasi DBS atau Deep Brain Stimulation adalah salah satu prosedur yang dapat membantu memperbaiki gejala Parkinson dan meningkatkan kualltas hldup penyandang Parkinson.
2 (dua) dokter dari RS Siloam yaitu Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS dan Dr. dr. Rocksy Fransisca V Situmeang, Sp.N akan berbicara mengenai hal ini. Yuk kita simak wawancara dengan para dokter tersebut.
Deep BrainStimulation pada Pasien ParkinsonDokter spesialis saraf Siloam Hospitals Lippa Village Dr. dr. Rocksy Fransisca V Sltumeang, Sp.N dalam kesempatan wawancaranya menyebutkan Operasi Deep Brain Stimulation (DBS) atau pernasangan stimulasl saraf di dalam otak merupakan sebuah prosedur medis yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson. Prosedur ini melibatkan pemasangan elektroda tip1s pada bag1an tertentu dari otak, yang kemudian memberikan impuls listrik untuk meningkatkan fungsi motorik atau menghambat aktivitas yang berlebihan pada saraf.
“Elektroda ini terhubung ke generator yang ditanam di bawah kullt di dada. Generator ini mengirimkan sinyal listrik ke otak yang membantu mengurangi gejal21 Parkinson. Metode DBS adalah salah satu dari beberapa pengobatan yang tersedia untuk Parkinson dan telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala”, ujar dr Rocksy.
Bagaimana DBS Memengaruhi Otak pada Pasien Parkinson? dr. Rocksy menyebutkan elektroda DBS memancarkan impuls listrik yang bertujuan untuk mengatasi gejala Parkinson. Elektroda DBS bekerja dengan memberikan stimulus ke daerah otak tertentu yang terlibat dalam mengatur gerakan tubuh. Sinyal ini membantu mengurangi tremor, kekakuan, dan kesulitan bergerak yang terkait dengan Parkinson. DBSJuga dapat membantu mengurangi efek samping dari obat Parkinson yang digunakan untuk mengontrol gejala.
Keuntungan dari Deep Brain Stimulation pada Pasien Parkinson?Berikutnya, dr. Rocksy turut menjelaskan bahwa terdapat beberapa keuntungan dari DBS pada pasien Parkinson, antara lain:
Menurunkan intensitas gejalaSalah satu keuntungan dari prosedur DBS Parkinson adalah kemampuannya untuk menurunkan intensitas gejala. Beberapa tanda-tanda penyakit seperti tremor, kaku, gerakan lambat, dan ketidakmampuan untuk bergerak dapat dikurangi dengan DBS.
- Menurunkan intensitas gejala, Salah satu keuntungan dari prosedur DBS Parkinson adalah kemampuannya untuk menurunkan intensitas gejala. Beberapa tanda-tanda penyakit seperti tremor, kaku, gerakan lambat, dan ketidakmampuan untuk bergerak dapat dikurangi dengan DBS.
- Mengurangi dosis obat, DBS dapat mengurangi dosis obat yang biasanya di konsumsi untuk rnengobati penyakit Parkinson. Dosis obat yang dikonsurnsi rnenjadl lebih sedikit sehingga dapat meminimalkan efek sarnping dari obat Hal ini juga mernbantu meningkatkan kualitas h1dup pasien.
- Prosedur yang aman, Pemasangan DBS tidak rnempengaruhi kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Area otaky ng distimulus terbatas pada lokasi tertentu yang mempengaruhi gerakan, sehingga tidak mernpengaruhi fungsi otak lainnya. Oleh karena itu, pasien dapat menjalani kegiatan seharl-harl dalam kondisi yang sama seperti sebelurnnya.
- Efektif dalam jangka waktu lama, Terapi DBS dapat terus efektif selama bertahun-tahun. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan rutin pada pasien untuk memastikan stimulasi pada DBS tetap berjalan sesuai dengan program yang telah dltetapkan.
- Prosedur yang dapat diatur dengan mudah, Terapi DBS dapat dengan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan pasien. Ketika suatu program dimulai, pasien dapat memantau hasilnya dan berbicara dengan dokter tentang tingkat stimulasi yang diperlukan. Paslen dapat memulai terapi dengan tingkat stimulasi yang lebih rendah, dan meningkatkan dosis seiring berjalannya waktu.
“Melihat dari beberapa keuntungan di atas, DBS dapat m_enawarkan sebagai salah satu pengobatan yang aman dan efektlf untuk gejala Parkinson. Namun, setiap pasien memiliki kondisi yang unik, oleh karena itu sangat dltekankan untuk berkonsultas1 dengan dokter sebelum mernulai terapi DBS,” Ianjut dr Rocksy
Pemilihan Pasien yang Tepat untuk DBS pada Pasien Parkinson Perlu diingat, setiap pasien rnemiliki kondisi yang unik, kondisi tersebut memengaruhl keputusan seorang pasien untuk melakukan operasi DBS. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi yang teliti oleh dokter spesialis saraf untuk memastikan pasien tersebut memenuhi syarat. Berikut adalah beberapa kriteria pasien yang cocok untuk dilakukan operasi DBS pada paslen Parkinson:
- Penegakan diagnosis Penyakit Parkinson, Pasien harus memiliki diagnosis Parkinson yang ditegakkan dengan jelas. Tipe Parkinson yang leblh berat seperti Parkinson refraktori dapat menjadi indikasi untuk menjalani terapi DBS.
- Telah maksimal dalam menggunakan obat, Pasien harus sudah mencoba dan memaksimalkan obat-obatan Parkinson yang tersedia dan tidak memberikan pengobatan yang memadai dalam mengontrol gejala, sehingga opsi bedah menjadi pertlmbangan.
- Tidak adanya efek samping yang signifikan dari obat, Pasien harus mampu mentoleransl efek samping dari obat obatan yang diberikan. Jika pasien tidak dapat mentoleransi efek samping terkait dengan obat-obat ini, maka opsi bedah bisa dianggap sebagai alternatif.
- Kondisi medis lain yang stabil, Pasien harus dalam kondisi kesehatan yang cukup baik dan tidak memiliki penyakit medis lain yang bertentangan dengan operas! DBS. Pada pasien yang menderita penyakit medls lain seperti epilepsi yang tidak terkontrol atau terapi kanker sistemik, sebaiknya menunda operasi DBS ini.
- Usia pasien, Umur pasien yang direkomendasikan tidak lebih dari 75 tahun, namun demikian tetap diperlukan diskusi antara pasien, dokter, dan keluarga.
- Kualitas hidup pasien, Pasien harus memillki kefnginan untuk memperbaikl kualitas h1dup dan memperbaiki cara hidup sehat. Pasien harus mengerti bahwa operasi DBS Parkinson bukanlah obat ajaib yang akan menghilangkan penyakit, tetapi metode pengobatan yang bertujuan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Demikian beberapa kriteria pasien yang cocok untuk operasi DBS Parkinson, keputusan pilihan untuk menjalani operasi DBS harus didasarkan pada evaluasi yang cermat dan diskusi antara pasien, dokter spesialis neurologi, dan keluarga.
Proses Pemasangan Elektroda DBS pada Pasien Parkinson, Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS, dokter spesialis bedah saraf yang saat ini berpraktik di Siloam Hospitals Lippa Village, secara singkat memberikan penjelasan terkait dengan proses pemasangan elektroda DBS pada pasien. Langkah pertama dalam pemasangan elektroda DBS adalah dengan melakukan pemeriksaan MRI, yaitu sebuah prosedur pemindaian tubuh yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambaran detail dari otak. lni membantu dokter untuk menentukan area yang akan diberikan stimulasi.
Prosedur berikutnya adalah memasang frame penyangga kepala. Frame ini akan membantu mengamankan kepala pasien agar dapat dilakukan pemetaan otak yang lebih tepat. Setelah frame dipasang, dokter akan melakukan pemetaan otak. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi yang disebut dengan trajectories. Trajectories digunakan dalam menentukan rute yang tepat untuk memasukkan elektroda ke otak sehingga dapat melakukan stimulasl.
Dokter akan memasukkan elektroda DBS ke otak melalui lubang kecil pada tengkorak. Elektroda kemudlan dipasang melalui sebuah tabung khusus yang memungkinkan dokter untuk memasang elektroda tersebut dengan tepat dan terkendail.
Selanjutnya setelah elektroda dipasang, dokter akan mengaktifkan stimulator. Stimulator ini berperan untuk mengirimkan sinyal elektrik yang melalui elektroda ke otak dan memengaruhi sistem saraf yang mengendalikan gerakan. Dokter akan menentukan frekuensi optimal dan arus listrik yang diperlukan untuk mengendalikan gejala Parkinson.
Ketika prosedur selesai, pasien akan dlmasukkan ke ruang pemulihan untuk dipantau oleh dokter dan tim medis Pasien akan menjalani beberapa sesi pemrograman dan disarankan untuk melakukan beberapa aktivitasfisik saat tangan dan kaki dlstimulasi oleh DBS.
Sel ma beberapa hari setelah operasi, pasien akan tetap dalam pengawasan tim medis. Hal ini dilakukan untuk memantau kemajuan pasien serta memeriksa adanya komplikasi yang mungkin muncul. Selain itu, pasien diharuskan untuk menjalani sesi pemrograman ulang ketika dibutuhkan.
Perlu diketahui juga, berdasarkan data dan penanganan pasien Parkinson di Siloam Hospitals Lippo Village, tingkat keberhasilan dari prosedur DBS ini adalah sebesar 70 % sampai 80%. “Tidak semua rumah sakit dapat melakukan tindakan operasi DBS, Siloam Hospitals Lippo Village merupakan salah satu rumah sakit yang secara fasilitas dan kompetensi tenaga medisnya mampu untuk melakukan DBS. Namun demikian, saat ini banyak rum ahsakit yangmulai melirik treatment DBS karena besarnya tingkat keberhasilan dan pengaruhnva terhadap kualitas hidup pas,en pascaoperasi dilakukan,” ujar Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS.
Treatment Pascaoperasi DBS pada Pasien Parkinson Setelah pemasangan elektroda DBS, menurut Dr. dr. Rocksy Fransisca V.Situmeang, Sp.N, pasien tidak memerlukan pengobatan yang khusus . Umumnya pasien melaporkan kondisi yang lebih baik pasca operasi dan dapat mulai beraktfvitas seperti biasa
“Pasca operas, alat DBS masih dalam kondisi tidak aktif. Alat baru dinyalakan setelahl-2 minggu pasca operasi menunggu pemulihan Iuka pasca operasi. Selama masa pemulihan, pasien akan melakukan pemeriksaan medis secara teratur agar kondisinya terus termonitor dengan baik.” ujar dr. Rocksy.
“Agar stimulasi dapat berfungsl dengan baik, voltage (voltase) dari elektroda tersebut harus diatur secara tepat. Setiap pasien mungkin memiliki pengaturan stimulasi DBS yangberbeda-beda, tergantung pada respons terhadap stimulasi, keparahan gejala Parkinson, dan seirlng bertambahnya usia darl pasien tersebut” lanjut dr. Rocksy.
Dalarn pemrograman DBS yang dilakukan, ketika pasien merasa sudah nyaman dan pergerakan tubuhnya membaik, settingan sederhana tersebut mampu bertahan hingga berbulan-bulan bahkan sampai 1 tahun lebih sehingga pasien tidak perlu melakukan kontrol rutin untuk melakukan setting ulang terhadap DBS tersebut.
Pasien yang Tidak Dianjurkan Melakukan Pemasangan DBS Parkinson, Pada akhir kesempatan wawancara yang dilakukan, dr. Rocksy menjelaskan secara singkat mengenai pasien yang tidak dianjurkan untuk dilakukan pemasangan DBS. Menurutnya, pasien tersebut tidak akan menerima efek yang diharapkan mengingat beberapa hal sebaga1 berikut:
- Demensia derajat sedang berat, pasien dengan demensia sedang-berat dianjurkan untuk tidak menjalani operasi DBS karena dikhawatirkan tidak cocok dan mudah mengalami komplikasi sehingga efektivitas pengobatan itu sendiri menjadi terganggu.
- Depresi sedang berat, pasien dengan depresi sedang-berat juga tldak dianjurkan untuk menjalani operas, DBS karena hasilnya tidak optimal. Tindakan fisioterapi dan terapi musik akan lebih rnembantu pasien parkinson dengan kondisi tersebut.
- Pasien Parkinson yang tidak merespon terhadap obat-obatan, beberapa pasien memang tidak merespon baik terhadap obat-obatan untuk parkinson. Dalam kasus ini, dokter akan mencoba mengombinasikan obat atau memberikan terapi alternatif untuk mengelola gejala tersebut.
Penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis dan mendapatkan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan apakah DBS cocok untuk pasien tertentu. Ada alternatif pengobatan yang tersedia untuk gejala parkmson, dan dokter akan membantu memilih pengobatan yang paling tepat berdasarkan kondisi dan faktor risiko pasien.
Bila ada pertanyaan lebih lanjut terhadap penanganan penyakit Parkinson dan DBS, Anda dapat melakuk;m konsultasi dengan Dr. dr Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N dan Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS melalui situs https://www.siloamhospitals.com/cari-dokter, aplikasi My5iloam atau menghubungi Contact Center 1-500-181 (Red/*)









































