Mediakawasan.co.id, Jakarta – Industri kecantikan dan bedah estetika di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Hal ini disampaikan oleh Direktur ATOP Plastic Surgery, Diana Hestya Ningsih, dalam sebuah pemaparan yang menyoroti potensi besar sektor ini di masa depan.
Menurut Diana, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penampilan menjadi salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan industri estetika. Jika sebelumnya perawatan kosmetik identik dengan perempuan, kini tren tersebut telah meluas ke kalangan pria.
“Sekarang ini kebutuhan akan perawatan estetika tidak lagi terbatas pada wanita saja. Pria pun sudah mulai menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Namun demikian, Diana menilai bahwa tingginya minat masyarakat juga diiringi dengan persaingan yang semakin ketat antar penyedia layanan estetika. Oleh karena itu, ATOP Plastic Surgery berupaya menghadirkan pendekatan berbeda, tidak hanya berfokus pada aspek estetika semata, tetapi juga pada harmonisasi hasil yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing pasien.
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa kualitas tenaga medis di Indonesia sebenarnya tidak kalah dibandingkan negara lain seperti Thailand dan Korea Selatan. Tantangan utama justru terletak pada ekosistem industri yang belum sepenuhnya matang.
“Secara kualitas dokter, Indonesia sudah sangat kompetitif. Namun yang membedakan adalah ekosistemnya, seperti dukungan pemerintah, infrastruktur, dan integrasi dengan sektor pariwisata medis,” jelasnya.
Thailand dan Korea Selatan, lanjut Diana, telah lebih dulu mengembangkan konsep medical tourism dengan dukungan kuat dari pemerintah. Mulai dari kemudahan akses layanan, promosi terintegrasi, hingga fasilitas yang menunjang wisata medis menjadi daya tarik utama bagi pasien internasional.
Meski demikian, Diana melihat kondisi ini sebagai peluang besar bagi Indonesia. Ia optimistis bahwa dengan upaya transformasi menuju medical tourism, Indonesia dapat menjadi destinasi alternatif di kawasan Asia.
“Indonesia saat ini mulai bergerak ke arah medical tourism. Ini peluang besar, terutama jika didukung kawasan khusus dan kebijakan yang tepat,” katanya.
Dari sisi tren pasar, beberapa jenis prosedur estetika masih menjadi favorit, baik di Indonesia maupun di negara lain di Asia. Di antaranya adalah operasi hidung (rhinoplasty), pembuatan lipatan kelopak mata (double eyelid), serta prosedur perawatan anti-aging.
Selain itu, Diana juga menekankan pentingnya memahami standar kecantikan yang berbeda di setiap negara. Menurutnya, Indonesia memiliki karakteristik estetika tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan negara lain.
“Setiap negara punya standar kecantikan yang unik. Di Indonesia, pendekatannya harus menyesuaikan dengan karakter dan preferensi lokal,” tambahnya.
Dengan perkembangan yang ada, industri estetika Indonesia dinilai memiliki prospek cerah, terutama jika mampu memaksimalkan potensi lokal dan memperkuat ekosistem pendukungnya. (Red/*)













































