Mediakawasan.co.id, Tangerang – Universitas Multimedia Nusantara, dalam rangka Sustainability Week, menyelenggarakan Sustainability Talk dengan Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D., selaku Rektor UMN, dan Rachman Kurniawan, selaku Manajer Pilar Pembangunan Lingkungan, Sekretariat Sustainable Development Goals Seknas SDGs Kementerian PPN/Bappenas. Mengangkat tema “Reclaiming Sustainability Beyond 2030 Targets”, kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengedukasi mengenai keberlanjutan, tetapi juga sebagai langkah dan aksi nyata menuju pencapaian Sustainable Development Goals pada tahun 2030.
Sebagai wujud komitmen Universitas Multimedia Nusantara dalam memberikan kontribusi substansial terhadap aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, UMN menyelenggarakan Sustainability Week. Kegiatan ini diinisiasi oleh Sustainability Center UMN sebagai salah satu implementasi nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals 2030. Sustainability Week mencakup beragam kegiatan, antara lain Lomba Penelitian Belia Banten, Penanaman Mangrove, dan Sustainability Talk, yang dirancang untuk mendorong kesadaran serta partisipasi aktif sivitas akademika UMN dalam pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan Sustainability Talk melibatkan empat fakultas di UMN dengan masing-masing topik yang relevan dari setiap fakultas dan menjadi rangkaian puncak acara dari Sustainability Week 2025. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan civitas akademik UMN, tetapi juga industri dan pemerintah. Dalam puncak Sustainability Talk ini, diisi oleh Dr. Andrey Andoko selaku Rektor UMN dan Rachman Kurniawan selaku Manajer Pilar Pembangunan Lingkungan, Sekretariat Sustainable Development Goals Seknas SDGs Kementerian PPN/Bappenas.
“Tantangan global saat ini semakin kompleks; kondisi dunia saat ini tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga mencakup dimensi sosial, lingkungan, dan ekonomi. Kondisi geopolitik yang kurang menguntungkan juga berkontribusi pada pengabaian isu keberlanjutan oleh banyak masyarakat global. Isu keberlanjutan telah didorong di Indonesia sejak tahun 2010, mulai dari Millenium Development Goals hingga kini berganti menjadi Sustainable Development Goals,” jelas Rachman Kurniawan selaku Manajer Pilar Pembangunan Lingkungan, Sekretariat Sustainable Development Goals Seknas SDGs Kementerian PPN/Bappenas.
Rachman menjelaskan mengenai gagasan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang “People Planetary Crisis”, di mana semakin banyak individu yang tidak menyadari perubahan iklim yang terjadi dengan cepat, mulai dari polusi udara, hilangnya keanekaragaman hayati, perebutan sumber daya alam, dan berbagai krisis lainnya. Jika hal ini terus diabaikan, akan berpotensi menghancurkan dan merusak bumi.
“Dalam SDG terdapat 17 poin yang menjadi agenda di tahun 2030, dan jika diteliti lebih dalam terdapat 169 target serta 207 indikator. Ini merupakan kesepakatan global; Indonesia memiliki 299 indikator yang tentu lebih banyak karena disesuaikan dengan kondisi negara kita. Namun, Indonesia masih jauh dari sempurna; berdasarkan data tahun 2024, Indonesia baru mencapai 60%, sehingga masih banyak yang perlu kita lakukan,” jelas Rachman.
Meskipun masih banyak target dan indikator yang harus dicapai oleh Indonesia, Rachman menyatakan kebanggaannya karena kolaborasi semakin meluas untuk mendukung keberlanjutan di Indonesia, melibatkan industri, pemerintahan, filantropi, dan juga perguruan tinggi. Bagi Rachman, untuk memenuhi target SDG memang diperlukan kolaborasi yang luas.
“Perguruan tinggi sangat berperan dalam mendukung, mulai dari riset hingga penyediaan sumber daya pakar yang memang dapat ditemukan di perguruan tinggi. Di Indonesia sendiri terdapat 68 perguruan tinggi yang telah membentuk Sustainability Center yang tersebar di 25 provinsi.” (Red/rlls)













































