Jakarta – Ketidakpastian dalam menghadapi gelombang transformasi digital kini menemukan jawabannya. DQLab bekerja sama dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) secara resmi meluncurkan AI Training Center, sebuah inisiatif ambisius yang dirancang untuk mengubah kekhawatiran (concern) menjadi kepercayaan diri (confidence) dalam mengadaptasi
Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia. Pusat pelatihan ini menawarkan pendekatan yang nyata dan terjangkau, menjawab kebutuhan krusial akan talenta AI yang terampil.
Dalam era bisnis yang didominasi teknologi, riset McKinsey terbaru menggarisbawahi urgensi: perusahaan yang mengadopsi AI akan sangat membutuhkan data scientist dalam beberapa tahun ke depan. Namun, kendati antusiasme tinggi, banyak organisasi mulai dari bisnis besar hingga UMKM masih bergulat dengan implementasi AI yang efektif dan efisien.
Kesenjangan ini diperparah dengan harapan karyawan akan lebih banyak pelatihan AI, mengingat semakin luasnya penggunaan AI di sektor-sektor kunci seperti penjualan, pemasaran, pengembangan produk, dan operasional layanan.
Menanggapi tantangan ini, AI Training Center hadir sebagai jembatan strategis. “Supaya kita tidak digantikan oleh AI, maka kita harus memiliki kemampuan ‘beyond’ AI,” tegas Andrey Andoko, Rektor Universitas Multimedia Nusantara. “Karena AI digunakan di berbagai bidang, maka bagi semua orang harus memiliki kemampuan penggunaan AI. Karena bagi sebagian orang ini hal baru, maka kita harus terus belajar, bisa melalui pelatihan.”
Andrey menambahkan agar AI tidak menjadi ancaman bagi angkatan kerja pada bonus demografi pada 2024, maka sistem pendidikan harus berbenah dari sekarang.
Program pelatihan ini dirancang praktis, relevan dengan kebutuhan industri, dan yang terpenting, terjangkau. Peserta tidak hanya akan mempelajari teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui studi kasus nyata dan penggunaan database chatbot yang relevan. Keunggulan lain adalah fokus pada efisiensi waktu dan biaya, selaras dengan temuan McKinsey bahwa Gen AI dapat secara signifikan menghemat waktu dalam proses bisnis.
“Kami menerapkan AI dengan jalan yang penuh tantangan, belajar dari kesalahan dan belokan yang tak perlu. Setelah proses itu, saatnya kami berbagi dan berkolaborasi agar orang lain bisa melangkah lebih cepat, lebih tepat, dan lebih tenang,” ujar Feris Thia, Co-Founder Xeratid.
AI Training Center tidak hanya menawarkan pembelajaran, tetapi juga menempatkan pengembangan keterampilan AI sebagai inti dari visi keberlanjutan UMN. Dengan memadukan pendidikan, praktik industri, dan riset terkini, pusat ini berkomitmen untuk mencetak SDM yang siap menghadapi tantangan digital dan memastikan materi pembelajaran tetap relevan dengan tren AI global dan lokal, termasuk AI Multimodal dan AI Agen yang semakin berkembang.
Peluncuran AI Training Center ini menandai langkah penting bagi DQLab dan UMN dalam mendorong adopsi AI yang lebih merata, inklusif, dan berdampak positif di seluruh Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya mempersiapkan individu dan perusahaan untuk menguasai AI, melainkan juga menempatkan mereka di garis depan inovasi, alih-alih sekadar mengejar ketertinggalan teknologi. (Red/*)














































