Mediakawasan.co.id, Tangerang Selatan — Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi raksasa ekspor pertanian dunia. Namun, tantangan keamanan pangan dan standar fitosanitari global masih menjadi penghambat utama bagi produk-produk segar Tanah Air untuk bersaing di pasar internasional.
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Aplikasi Iradiasi Pangan untuk Mendukung Ekspor Produk Pertanian Indonesia”, yang berlangsung di Auditorium Gedung 720, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong (29/7).
FGD ini menjadi forum penting untuk mengangkat kembali urgensi pemanfaatan teknologi iradiasi pangan—sebuah metode mutakhir yang mampu membunuh patogen, memperpanjang masa simpan, serta memenuhi standar keamanan pangan global. Sayangnya, pemanfaatan teknologi ini di Indonesia masih belum optimal karena keterbatasan infrastruktur, regulasi, dan pemahaman publik.
Kolaborasi Lintas Sektor Hadirkan Solusi Nyata
Kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Dua tokoh utama hadir sebagai keynote speaker, yakni Dr. Ir. Dadan Hindayana (Kepala Badan Gizi Nasional) yang menyoroti potensi iradiasi dalam mendukung ketahanan gizi nasional, dan Tri Mumpuni (anggota Dewan Pengarah), yang menekankan pentingnya iradiasi dalam menjaga kualitas ekspor dan menjamin keamanan pangan.
Diskusi semakin menguat dengan kehadiran delapan narasumber kunci, termasuk pakar internasional Dr. Andrew Jessup dari Australia yang mengupas potensi pasar global produk segar teriradiasi. Dari dalam negeri, hadir pula Dra. Dwiana Andayani dari BPOM, Dr. Antarjo Dikin dari Badan Karantina Indonesia, serta Dr. Syaiful Bakhri (Kepala ORTN BRIN) yang menyoroti peran riset dalam pengembangan akselerator iradiasi.
Pemaparan juga diberikan oleh perwakilan industri seperti PT Teramed Indonesia, PT BKI, dan PT Oneject, yang menunjukkan kesiapan fasilitas iradiator dalam negeri. Dari sisi regulasi, BAPETEN menjelaskan proses perizinan teknologi iradiasi, sedangkan BAPANAS menyampaikan kontribusi iradiasi terhadap keamanan dan mutu pangan nasional.
Menuju Ekosistem Iradiasi Pangan yang Tangguh
Melalui forum ini, diharapkan muncul terobosan konkret untuk mempercepat adopsi iradiasi pangan di Indonesia. Beberapa hasil yang ditargetkan mencakup:
- Penyusunan peta jalan pengembangan infrastruktur iradiasi nasional
- Harmonisasi regulasi dan pengawasan teknologi iradiasi
- Peningkatan literasi pelaku usaha dan masyarakat
- Pembentukan jejaring kolaborasi antar lembaga riset, industri, dan regulator
- Komitmen kerja sama lintas sektor untuk akselerasi implementasi teknologi iradiasi
Dengan langkah nyata ini, Indonesia optimistis dapat meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar global, sekaligus menjaga kualitas dan keamanan pangan dalam negeri. Teknologi iradiasi bukan hanya alat, tetapi strategi masa depan untuk pertanian Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan. (Red/*)













































