Tag: Siloam Heart Hospital

  • Jangan Anggap Sepele Berat Badan Anak Sulit Naik, Bisa Menjadi Sinyal Penyakit Jantung Bawaan

    Jangan Anggap Sepele Berat Badan Anak Sulit Naik, Bisa Menjadi Sinyal Penyakit Jantung Bawaan

    Mediakawasan.co.id, Jakarta – Berat badan anak yang tidak kunjung bertambah sering kali dianggap sebagai akibat kurang makan atau masalah nutrisi. Namun, kondisi tersebut juga dapat menjadi tanda adanya penyakit serius, termasuk penyakit jantung bawaan. Karena itu, orang tua perlu mewaspadai gangguan tumbuh kembang anak dan tidak menunda pemeriksaan medis apabila disertai gejala lain seperti napas cepat, mudah lelah, atau bibir membiru.

    Dokter Spesialis Anak Siloam Heart Hospital, dr. Ambarsari, MSc., Sp.A, mengatakan tumbuh kembang anak merupakan indikator penting untuk menilai kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Gangguan pertumbuhan maupun perkembangan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi dapat dipengaruhi berbagai penyakit yang mendasarinya.

    “Tumbuh kembang anak dapat dipantau melalui dua aspek, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan meliputi berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala yang dibandingkan dengan kurva pertumbuhan sesuai usia. Sedangkan perkembangan dinilai dari kemampuan motorik, bahasa, hingga interaksi sosial anak,” ujar dr. Ambarsari.

    Pada aspek pertumbuhan, orang tua perlu waspada apabila berat badan anak sulit bertambah, tinggi badan berada di bawah standar usianya, atau ukuran lingkar kepala tidak normal. Sementara itu, pada aspek perkembangan, tanda bahaya dapat berupa bayi yang terlambat menegakkan kepala, belum mampu duduk atau merangkak sesuai usia, hingga keterlambatan berjalan dan berbicara.

    Menurut dr. Ambarsari, kasus yang paling sering dijumpai adalah berat badan yang sulit naik serta keterlambatan bicara.

    Ia menjelaskan, penyebab gangguan tumbuh kembang sangat beragam, mulai dari kurangnya asupan nutrisi, minimnya stimulasi, infeksi berulang, gangguan penyerapan nutrisi, bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah, kelainan genetik, cerebral palsy, hingga penyakit jantung bawaan.

    “Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin cepat pula intervensi yang tepat dapat diberikan sehingga peluang anak mencapai tumbuh kembang yang optimal menjadi lebih besar,” katanya.

    Salah satu kondisi yang kerap tidak disadari adalah penyakit jantung bawaan atau Congenital Heart Disease (CHD). Kelainan struktur jantung sejak lahir ini membuat jantung bekerja lebih keras sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh justru dipakai mempertahankan fungsi jantung.

    Akibatnya, anak mudah lelah saat menyusu atau makan, berat badan sulit bertambah, hingga lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan berulang.

    “Kami cukup sering menangani bayi yang datang dengan keluhan sesak napas sejak lahir, tampak kebiruan, atau memiliki kadar oksigen rendah saat dilakukan pemeriksaan,” ungkap dr. Ambarsari.

    Ia mengimbau orang tua segera memeriksakan anak apabila mengalami napas cepat meski sedang beristirahat, mudah lelah, sering tersedak saat menyusu, berat badan sulit naik, pertumbuhan dan perkembangan terhambat, infeksi saluran pernapasan berulang, bibir atau kuku tampak kebiruan, maupun ujung jari yang membulat.

    Menurutnya, penyakit jantung bawaan sebenarnya dapat dideteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan USG pada usia kandungan sekitar 18 hingga 20 minggu. Setelah bayi lahir, skrining menggunakan pulse oximetry dan pemeriksaan kesehatan rutin juga berperan penting untuk menemukan kelainan sejak dini.

    Selain melakukan pemeriksaan berkala, orang tua juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan memberikan gizi seimbang, mendorong anak aktif bergerak, membatasi konsumsi gula dan garam, mengurangi penggunaan gawai, menghindarkan anak dari paparan asap rokok, melengkapi imunisasi, serta memastikan waktu tidur yang cukup.

    “Apabila orang tua menemukan adanya tanda bahaya pada tumbuh kembang anak, jangan menunda untuk berkonsultasi ke dokter. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal akan semakin baik,” tutup dr. Ambarsari. (Red/*)

  • Dokter Jantung Ingatkan Cacar Api Bisa Picu Stroke hingga Perburuk Penyakit Jantung, Vaksinasi Jadi Upaya Pencegahan

    Dokter Jantung Ingatkan Cacar Api Bisa Picu Stroke hingga Perburuk Penyakit Jantung, Vaksinasi Jadi Upaya Pencegahan

    Mediakawasan.co.id, Jakarta – Penyakit cacar api atau herpes zoster tidak hanya menyebabkan ruam dan nyeri pada kulit, tetapi juga dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, hingga memperburuk kondisi pasien yang telah memiliki penyakit jantung. Karena itu, masyarakat, terutama kelompok lanjut usia dan penderita penyakit kronis, diimbau meningkatkan kewaspadaan serta mempertimbangkan vaksinasi sebagai langkah pencegahan.

    Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Siloam Heart Hospital dr. Glovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP, FIHA , menjelaskan herpes zoster merupakan penyakit akibat reaktivasi virus varicella-zoster, yaitu virus penyebab cacar air yang tetap berada di jaringan saraf setelah seseorang sembuh dari infeksi pertama.

    Menurutnya, risiko herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia karena sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan. Meski gaya hidup sehat seperti rutin berolahraga dan menjaga pola makan bergizi dapat membantu mempertahankan daya tahan tubuh, proses penuaan tetap menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko munculnya kembali virus tersebut.

    “Semakin bertambah usia, daya tahan tubuh semakin menurun. Meski gaya hidup sehat seperti olahraga rutin dan nutrisi yang baik dapat membantu menjaga imunitas, risiko tetap meningkat seiring proses penuaan,” ujarnya dalam Media Gathering Heart Care Day 2026 di Siloam Heart Hospital Sabtu (4/6).

    Ia menjelaskan, gejala herpes zoster biasanya diawali demam, nyeri, atau rasa gatal pada area tertentu, kemudian muncul ruam berisi cairan yang umumnya hanya terdapat pada satu sisi tubuh mengikuti jalur saraf. Ruam dapat muncul di dada, wajah, leher, ketiak, maupun selangkangan.

    Yang perlu diwaspadai, kata dr. Glovanno, bukan hanya ruamnya. Sebagian pasien masih mengalami nyeri hebat meski ruam telah sembuh. Nyeri pasca-herpes zoster bahkan dapat berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan sering digambarkan seperti sensasi terbakar, tersengat listrik, atau tertusuk-tusuk sehingga mengganggu aktivitas, produktivitas, dan kualitas tidur.

    Selain menyerang kulit dan saraf, herpes zoster juga dapat mengenai mata maupun telinga sehingga berisiko menyebabkan gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, hingga Ramsay Hunt Syndrome. Bahkan, infeksi tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

    “Peradangan yang dipicu infeksi virus dapat menyebabkan inflamasi pada pembuluh darah maupun otot jantung atau miokarditis. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga gagal jantung, terutama pada pasien yang telah memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, maupun kanker,” jelasnya.

    Sementara itu, Konsultan Kardiologi Intervensi Siloam Heart Hospital, DR. dr. Sidhi Laksono, Sp.JP, Subsp.KI (K), FIHA, MARS, MH, CPHM, FISQUA, menegaskan infeksi herpes zoster dapat memberikan beban tambahan bagi pasien yang telah memiliki penyakit jantung.

    Menurutnya, nyeri hebat akibat herpes zoster membuat tubuh melepaskan respons stres yang meningkatkan kerja jantung. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk penyakit jantung koroner maupun gagal jantung yang telah diderita pasien.

    “Virus ini memang menyerang jaringan saraf. Selain menimbulkan ruam dan lepuhan pada kulit, rasa nyeri yang ditimbulkan dapat meningkatkan beban kerja jantung, terutama pada pasien yang sudah memiliki penyakit jantung,” katanya.

    Dr. Sidhi menambahkan, sejumlah penelitian dari Korea Selatan menunjukkan adanya peningkatan risiko serangan jantung setelah seseorang mengalami herpes zoster. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa vaksinasi herpes zoster semakin digencarkan di negara tersebut, khususnya bagi kelompok berisiko.

    Meski demikian, ia menegaskan bahwa pada individu berusia muda tanpa faktor risiko penyakit jantung, herpes zoster umumnya tidak secara langsung memicu gangguan jantung. Risiko akan meningkat pada usia lanjut maupun mereka yang memiliki hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, atau penyakit kronis lainnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa virus penyebab herpes zoster tetap berada di dalam tubuh sehingga penyakit tersebut dapat kambuh lebih dari satu kali. Bahkan setelah ruam menghilang, sebagian pasien masih mengalami nyeri saraf berkepanjangan atau post-herpetic neuralgia yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

    “Nyeri pasca-herpes bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan lebih lama. Kondisi ini tentu dapat menurunkan kualitas hidup dan memperberat kondisi pasien dengan penyakit jantung,” ujarnya.

    Untuk menekan risiko tersebut, kedua dokter sepakat bahwa vaksinasi herpes zoster menjadi salah satu langkah pencegahan yang efektif, terutama bagi orang dewasa berusia di atas 50 tahun maupun individu dengan penyakit penyerta.

    Dr. Glovanno menjelaskan vaksin diberikan dalam dua dosis. Pada kelompok usia di atas 50 tahun, dosis kedua diberikan sekitar enam bulan setelah dosis pertama. Sementara pada kelompok usia dewasa yang lebih muda dengan indikasi khusus, dosis kedua dapat diberikan sekitar dua bulan setelah penyuntikan pertama.

    Senada, dr. Sidhi mengatakan vaksin tidak hanya menurunkan risiko seseorang terkena herpes zoster, tetapi juga mengurangi tingkat keparahan penyakit apabila infeksi tetap terjadi, termasuk menekan risiko kekambuhan bagi mereka yang sebelumnya pernah mengalami cacar api.

    Meski dapat menimbulkan efek samping ringan seperti demam, pegal, atau rasa tidak nyaman selama satu hingga dua hari setelah penyuntikan, menurutnya kondisi tersebut merupakan respons normal tubuh terhadap vaksin. Ia juga mengingatkan vaksinasi sebaiknya dilakukan ketika kondisi kesehatan pasien stabil dan ditunda pada pasien yang sedang mengalami serangan jantung akut, gagal jantung berat, atau masih menjalani perawatan intensif.

    Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap cacar api sebagai penyakit kulit biasa. Mengenali gejala sejak dini, segera berkonsultasi dengan dokter saat muncul keluhan, serta menjalani vaksinasi sesuai rekomendasi menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi serius sekaligus melindungi kesehatan jantung. (Red/*)

  • Bahaya Diabetes dan Penyakit Jantung, Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan yang Tepat Jadi Kunci

    Bahaya Diabetes dan Penyakit Jantung, Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan yang Tepat Jadi Kunci

    Mediakawasan.co,id, Jakarta – Dalam rangka Hari Diabetes Nasional yang diperingati setiap 18 April, Siloam Heart Hospital mendorong peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya diabetes yang tidak hanya berkaitan dengan kadar gula darah, tetapi juga berperan besar dalam meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Kondisi ini diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung, bahkan menjadi salah satu penyebab utama kematian pada pasien diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat proses penyempitan arteri, terutama jika disertai dengan risiko lain seperti hipertensi, kolesterol tidak terkontrol, obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik. Kombinasi ini menjadikan diabetes dan penyakit jantung sebagai ancaman serius yang kerap berkembang tanpa gejala di tahap awal.

    Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP, FIHA dalam kegiatan health talk bertajuk “Diabetes & Penyakit Jantung: Kombinasi Berbahaya yang Mengancam Nyawa”. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa banyak pasien belum menyadari keterkaitan erat antara kedua kondisi ini hingga komplikasi terjadi. Ia juga mengingatkan bahwa fokus penanganan tidak boleh hanya berhenti pada pengendalian gula darah semata. “Diabetes bukan hanya soal gula darah, tetapi juga tentang kesehatan jantung. Tanpa disadari, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Oleh karena itu, penanganan diabetes perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya mengontrol gula darah, tetapi juga faktor risiko lain seperti tekanan darah, kolesterol, dan gaya hidup,” jelasnya.

    Seiring dengan meningkatnya kompleksitas kondisi pasien, khususnya yang memiliki lebih dari satu faktor risiko, penanganan yang terintegrasi menjadi semakin penting. Pendekatan ini mencakup deteksi dini, evaluasi menyeluruh, serta pemantauan berkelanjutan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.

    Menjawab kebutuhan tersebut, Siloam Heart Hospital sebagai rumah sakit unggulan di bidang jantung di Indonesia, menghadirkan layanan jantung yang komprehensif, mulai dari skrining dan diagnosis hingga penanganan lanjutan yang didukung oleh tim dokter spesialis dan subspesialis berpengalaman serta teknologi medis modern. Pendekatan multidisiplin ini menjadi kunci dalam menangani pasien dengan kondisi kompleks, termasuk pasien penderita diabetes. Melalui kegiatan edukasi ini, Siloam Heart Hospital terus berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan dan pengelolaan penyakit jantung sejak dini. (Red/rlls)

  • Siloam Heart Hospital Dianugerahi Specialty Hospital of the Year (Cardiology) – Indonesia pada Healthcare Asia Awards 2026

    Siloam Heart Hospital Dianugerahi Specialty Hospital of the Year (Cardiology) – Indonesia pada Healthcare Asia Awards 2026

    Mediakawasan.co.id, Jakarta –  Siloam Heart Hospital, bagian dari jaringan Siloam International Hospitals, meraih penghargaan bergengsi Healthcare Asia Awards 2026 sebagai Specialty Hospital of the Year (Cardiology) – Indonesia di Singapura, Kamis (26/3). Penghargaan ini mengukuhkan posisi Siloam Heart Hospital sebagai pusat layanan jantung terkemuka yang mampu menangani berbagai kasus kardiovaskular kompleks melalui pendekatan tim medis multidisiplin yang mencakup kardiologi intervensi, kardiologi pediatrik, elektrofisiologi, hingga bedah jantung yang terintegrasi untuk kondisi gawat darurat jantung. 

    Didukung teknologi medis modern dan protokol klinis berstandar internasional, Siloam Heart Hospital terus menghadirkan tingkat keberhasilan tindakan yang tinggi serta mempercepat proses pemulihan pasien.  Penghargaan ini juga menjadi satu dari empat penghargaan yang diterima Siloam International Hospitals dari Healthcare Asia Awards 2026.

    Sejak didirikan pada 2006 di Cinere, Siloam Heart Hospital telah berkembang sebagai pusat layanan jantung terintegrasi dengan kapabilitas klinis yang kuat dalam penanganan berbagai kasus kardiovaskular, termasuk kasus berisiko tinggi, melalui pendekatan yang berfokus pada keselamatan dan kualitas hidup pasien. Hospital Director Siloam Heart Hospitals, dr. Karina Arifiani, MSc menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan refleksi dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas layanan bagi pasien.

    “Bagi kami, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan, tetapi mencerminkan meningkatnya kualitas penanganan pasien jantung di Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan pendekatan minimal infasif, pasien kini memiliki peluang pemulihan yang lebih optimal dan dapat kembali beraktivitas dalam waktu relatif lebih singkat,” papar dr. Karina, Kamis (26/3)

    Setiap tahunnya, lebih dari 3.000 prosedur dilakukan di Cath Lab Siloam Heart Hospital, mendukung deteksi dan penanganan dini penyakit kardiovaskular. Untuk tindakan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG), Siloam Heart Hospital mencatat tingkat keberhasilan 98,8%, yang melampaui rata-rata keberhasilan operasi jantung di Singapura berdasarkan jurnal internasional. Kapabilitas layanan juga terlihat dari kenaikan proporsi prosedur kardiovaskular kompleks dari 17% pada 2023 menjadi 30% pada 2025. Layanan ini didukung oleh tim dokter spesialis dan subspesialis jantung, serta berbagai kapabilitas prosedur lanjutan seperti intervensi koroner kompleks dan tindakan berbasis teknologi pencitraan canggih. Pemanfaatan teknologi modern termasuk teknik bedah minimal invasif, memungkinkan tindakan yang lebih presisi dengan risiko komplikasi lebih rendah sehingga membantu mempercepat pemulihan pasien.

    Layanan utama antara lain kateterisasi jantung, pemasangan stent jantung, ablasi jantung, pemasangan alat pacu jantung, prosedur minimal infasif untuk kelainan katup, prosedur untuk pembuluh darah aorta dan perifer, bedah jantung minimal invasif, serta pemeriksaan jantung komprehensif.

    Sebagai pusat layanan jantung terintegrasi, Siloam Heart Hospital menyediakan berbagai layanan komprehensif mulai dari pencegahan, diagnosis, tindakan intervensi dan bedah hingga rehabilitasi jantung yang didukung oleh kelengkapan fasilitas berupa Lab Kateterisasi (Cath Lab), CT-Scan, Unit Perawatan Jantung Intensif (ICCU), Ekokardiografi, Elektrokardiografi, Treadmill test, Holter, dan Cardio Pulmonary Exercise Testing (CPET).

    Pendekatan menyeluruh ini memastikan kesinambungan perawatan bagi pasien dengan berbagai tingkat risiko kardiovaskular. Ke depan, Siloam Heart Hospital berkomitmen untuk terus memperluas akses layanan jantung berstandar internasional di Indonesia, sehingga semakin banyak pasien dapat memperoleh penanganan optimal tanpa harus ke luar negeri. (Red/rlls)